Hidayatullah.com—Jumlah senjata api (senpi) yang digunakan oleh warga sipil di Turki naik 10 persen di tiga bulan pertama tahun 2017, menurut statistik yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri.
Jumlah keseluruhan senjata api berizin yang digunakan oleh warga sipil mencapai 338.052 dengan adanya kenaikan itu, kata kementerian menjawab pertanyaan anggota parlemen Aylin Nazliaka dalam rapat, lapor Hurriyet Senin (8/5/2017).
Ketika data itu diperbarui, jumlah senpi yang baru dibeli atau dipindahtangankan pada kuartal pertama 2017 dicermati. Tampak bahwa ada 71.202 senpi yang dipegang oleh warga sipil di Istanbul. Sementara di ibukota Ankara ada 50.084 pucuk senjata api, Provinsi Izmir 12.574, Provinsi Trabzon 10.273, Provinsi Gaziantep 10.063, Provinsi Antalya 8.171, Provinsi Kocaeli 7.918, Provinsi Konya 7.462 dan Provinsi Diyarbakir 6.119.
Ketika mengajukan pertanyaan, Nazliaka merujuk pada statistik yang dirilis oleh Yayasan Umut, yang didirikan dengan tujuan tunggal memerangi kekerasan bersenjata individu di Turki, yang setiap tahunnya menewaskan ribuan orang.
Nazliaka mengutip laporan tahun 2016 oleh Yayasan Umut, yang menyatakan bahwa terdapat hampir 20 juta senjata api individual yang beredar di Turki, yang mana 85 persen di antaranya tidak berizin. Laporan itu menyebutkan terdapat 2,5 juta senjata api berizin dan 17 juta senjata api tak berizin.
“Berapa jumlah senpi yang beredar di seluruh penjuru Turki pada akhir 2011, dan berapa pada akhir 2016? Berapa jumlahnya sampai Maret 2017?” tanya politisi independen itu.
Jumlah kepemilikan senjata api meningkat selama 5 tahun hingga mencapai 692.921 pada tahun 2016, menurut statistik Kementerian Dalam Negeri. Dari jumlah itu, sebanyak 159.343 dibawa oleh pegawai negeri sipil (PNS), 116.090 dibawa oleh pensiunan PNS, 27.528 digunakan untuk alasan keamanan pribadi, 81.664 pucuk senjata api digunakan untuk tujuan profesional, 297.067 untuk alasan semata-mata kepemilikan (koleksi), dan 11.229 di antaranya adalah senjata api laras panjang (bedil).
Pada tiga bulan pertama tahun ini, angka itu naik 10 persen menjadi 338.052.
Menanggapi jawaban kementerian itu, Nazliaka berkata, “Alasan kenaikan tersebut perlu dianalisis juga.”
“Kenaikan di tiga bulan pertama itu bukan berasal dari perasaan keadilan masyarakat. Sebagaimana sudah diketahui sebagian politisi dan orang-orang pro-pemerintah menyeru agar masyarakat mempersenjatai diri mereka sendiri setelah percobaan kudeta 15 Juli 2016. Sekarang, satu dari setiap empat orang di negara kita memegang senjata. Satu-satunya solusi untuk mencegah kepemilikan senjata individu adalah fungsi negara hukum yang adil dan sehat di seluruh institusi dan hukumnya. Kepemilikan senjata individu hanya bisa membawa kepedihan,” imbuh Nazliaka.*