Hidayatullah.com–Presiden Vladimir Putin menandatangani undang-undang yang memungkinkan Angkatan Udara Rusia untuk terus tetap di Suriah selama 49 tahun sebagai bagian protokol perjanjian 2015 dengan pemerintah Damaskus.
Protokol ditandatangani Rusia dan Suriah pada Januari lalu, yang mengatur isu terkait penempatan angkatan udara militer di wilayah Damaskus.
Perjanjian ini kemudian diadopsi parlemen Rusia (Duma) pada 14 Juli dan disetujui Senat lima hari kemudian.
Diantara perjanjian yang termaktub dalam protokol tersebut adalah pilihan yang memungkinkan susunan perpanjangan otomatis selama 25 tahun lagi.
Baca: Serangan Rusia ke Suriah, Umat Islam Dunia Harus Bersatu
Selain itu, protokol turut memiliki perjanjian Suriah menyediakan pasukan udara Rusia dengan tanah bebas di barat laut Latakia.
Rusia juga menawarkan dukungan nasihat kepada Suriah untuk membantu Negara Arab itu mencapai keberhasilan menentang militan (kelompok pejuang pembebasan, red).
Sebelum ini Moskow menggunakan Pangkalan Udara Khmeimim untuk operasi anti teror sejak September 2015, demikian kutip sebuah media Iran.
Pihak Angkatan Udara Rusia juga sudah dikirim ke Suriah pada tanggal 30 September 2015 atas permintaan Rezim Bashar, sebagai bagian dari operasi yang ditujukan untuk memerangi kelompok pejuang pembebasan. Kelompok tersebut ditempatkan di Pangkalan Udara Humeimim.
Pihak Rusia mengatakan akan mempertahankan kehadiran militer di pelabuhan Tartus dan di pangkalan udara Humeimim untuk memantau situasi di wilayah tersebut dan mengamati pelaksanaan perjanjian gencatan senjata.
Sebagaimana diketahui, campur-tangan Rusia dibantu pemerintah Syiah Iran telah memperumit konflik dan perang di Suriah. Protokol ini akan lebih memperumit kaum Muslim di Suriah di masa mendatang.*