Hidayatullah.com—Paus Fransiskus mengecam penyebaran berita bohong yang marak tahun-tahun belakangan dengan menyatakannya sebagai “dosa yang sangat serius” dan meminta wartawan tidak mengungkit-ungkit kasus lama.
Berbicara dalam perayaan ulang tahunnya ke-81 hari Ahad (17/12/2017) di Vatikan, pemimpin tertinggi Katolik Roma itu mendesak para jurnalis agar tidak melakukan disinformasi atau deformasi, dan menyebut bahwa perkerjaan mereka “fundamental” bagi kehidupan masyarakat demokratis.
Dia menyeru agar para reporter menghindari laporan satu sisi dan tidak mengungkit-ungkit skandal-skandal yang sudah lewat.
Hal tersebut dikatakan Paus Fransiskus di tengah-tengah maraknya kembali berita soal pelanggaran-pelanggaran seksual di kalangan Gereja Katolik. Beberapa hari lalu, hasil penyelidikan pihak berwenang di Australia menyebutkan bahwa terjadi tindakan pembungkaman atau kesengajaan penyembunyian kasus-kasus pelanggaran seksual terutamanya di lembaga-lembaga Katolik.
Pernyataan Fransiskus itu sejalan dengan pesan tahunannya, sebagaimana yang pernah dijanjikan, bahwa tahun ini Vatikan akan memusatkan perhatian pada apa yang disebutnya ‘seruan iblis’ berupa kabar bohong.
“Kalian tidak boleh terjerumus ke dalam ‘dosa komunikasi:’ disinformasi, atau hanya melaporkan satu sisi, kabar bohong sensasional yang merusak citra orang, atau defamasi, mengorek-ngorek masalah yang sudah berlalu, sudah ditangani, dan mengungkit-ungkitnya lagi sekarang,” kata Paus Fransiskus kepada media Katolik seperti dilansir Euronews.
Tindakan-tindakan semacam itu merupakan “dosa besar yang menyakiti hati jurnalis dan orang lain,” katanya.
Seperti diketahui, beberapa tahun terakhir kasus-kasus seputar pelanggaran seksual di lingkungan gereja Katolik banyak diungkap di media Barat. Para korban, di berbagai belahan dunia, satu persatu mengungkapkan bagaimana kejahatan tersebut disimpan dan ditutup-tutupi, serta tidak dilaporkan ke pihak kepolisian selama bertahun-tahun dari lingkungan gereja Katolik terbawah hingga Vatikan. Sejumlah laporan analisis di media negara-negara Barat menyebutkan, faktor ini yang antara lain menjadi penyebab berkurangnya jumlah orang yang menghadiri peribadatan di gereja di Eropa dan Amerika, sehingga banyak gereja yang terpaksa ditutup. *