Hidayatullah.com—Kesatuan elit kepolisian Jerman GSG 9, yang bertugas menangani serangan teroris, sedang diperbesar dan akan memiliki markas kedua di Berlin.
Komandan GSG 9 Jerome Fuchs, hari Senin (15/1/2018), mengatakan kepada radio publik Berlin RBB bahwa keputusan itu diambil karena Jerman belakangan ini terus dihantui ancaman teroris, terutama di Berlin, lansir Deutsche Welle.
Melihat situasi Eropa pada umumnya, kata Fuchs, maka tampak banyak ibukota negara yang menjadi target serangan teror. Oleh karena itu, GSG 9 perlu memiliki kemampuan gerak yang lebih cepat di wilayah ibukota Berlin.
Rolf Tophoven, pakar kontra-terorisme yang pertama kali menulis buku tentang GSG 9 pada tahun 1977, mengatakan bahwa kehadiran polisi anti-teror di Berlin sudah ditunggu sejak lama.
Menurutnya, tahun lalu kepolisian federal sudah membuat unit cadangan siap siaga, yang bisa dikerahkan sebagai perespon pertama jika terjadi serangan teroris, sebelum personel GSG 9 dikerahkan ke lokasi.
“GSG 9 spesialis operasi situasi penyanderaan dan penangkapan penjahat kelas berat,” kata Tophoven. Dengan persenjataan yang canggih, secara efektif kesatuan elit ini bisa disebut paramiliter, meskipun tidak semua polisi senang dengan istilah itu. SGS juga bekerja sama dengan pasukan elit dari Angkatan Bersenjata Inggris SAS, serta pasukan elit negara-negara Eropa lain.
Rekrutmen anggota baru GSG 9 sepertinya akan mengalami kesulitan, sebab persyaratannya tidak mudah.
Seorang calon anggota GSG 9 harus sangup berlari sejauh 5 kilometer dalam waktu kurang dari 23 menit, berlari sejauh 100 meter dengan waktu kurang dari 13, 4 detik, dan menahan beban seberat 75% dari bobot tubuhnya sendiri.
Tidak hanya itu, menurut Fuchs, anggota GSG 9 tidak akan diambil dari kesatuan elit lain. Meskipun demikian, mereka haruslah orang yang sudah pernah mendapat pelatihan kepolisian, dan idealnya memiliki pengalaman di lapangan.
GSG 9 merupakan singkatan dari Grenzschutzgruppe 9, yang didirikan di kota Bonn pada tahun 1972. Kesatuan elit ini dibentuk sebagai konsekuensi langsung dari peristiwa penculikan dan pembunuhan atlet-atlet Israel peserta Olimpiade Munich tahun 1972. Kala itu pihak kepolisian mendapat kritikan tajam dan dituding tidak becus melaksanakan tugasnya.
Selain menangani kasus terorisme dan kejahatan kelas berat di dalam negeri, GSG 9 juga dikerahkan untuk operasi di luar negeri.
Kesatuan elit itu pernah ditugaskan di negara bagian Meclenburg-Vorpommern untuk memburu anggota jaringan teroris kanan jauh.
Pada tahun 1977, GSG 9 berhasil membebaskan 80 penumpang maskapai penerbangan Jerman Lufthansa, yang disandera di Mogadishu oleh gerilyawan pro-Palestina PFLP.
Sejak didirikan, kata Fuchs, GSG 9 sudah melaksanakan 1.900 operasi, atau sekitar 50 pertahun.
Pada 1993 citra GSG 9 sempat tercemar dan kehilangan banyak kepercayaan publik. Hal itu dipicu oleh insiden baku-tembak dengan kelompok teror sayap kiri Rote Armee Fraktion (RAF) di Bad Kleinen, yang menewaskan seorang aparat. Para komandan dituding sebagai biang kerok operasi yang tidak berjalan mulus itu. Sejumlah saksi mata bahkan mengatakan bahwa teroris Wolfgang Grams “dieksekusi” usai baku-tembak tersebut, meskipun keterangan resmi polisi mengatakan dia mati bunuh diri.*