Hidayatullah.com—Denmark menyatakan tekadnya untuk mendirikan pagar 70 kilometer sepanjang perbatasan dengan Jerman, guna melindungi industri peternakan babinya yang mendatangkan banyak uang.
Denmark berharap pagar itu dapat mencegah babi-babi hutan dari Jerman –yang membawa virus mematikan flu babi Afrika– memasuki wilayahnya.
Jerman: Flu Babi Afrika Mengancam, Silahkan Berburu Celeng
Saat ini belum ada laporan kasus flu babi Afrika di Denmark, tetapi pemerintah Kopenhagen khawatir dengan kasus-kasus flu babi Afrika yang sudah bermunculan di negara tetangga. Penyakit babi itu sudah hadir di Polandia, Republik Ceko, Rumania, Estonia, Latvia dan Lithuania, menurut pemerintah Denmark.
“Saya tidak ingin mengambil resiko,” kata Esben Lunde Larse, menteri Denmark untuk urusan makanan dan lingkungan seperti dikutip Euronews Kamis (22/3/2018).
Denmark merupakan salah satu pengekspor babi terbesar di Uni Eropa, dan setiap tahun negara menerima miliaran dolar dari hasil penjualan babi.
“Wabah demam babi Afrika di Denmark seketika akan mematikan semua ekspor ke negara ketiga,” imbuh Larsen.
“Pagar pembatas nantinya akan mencegah babi-babi hutan liar yang terinfeksi virus melintasi perbatasan dan memudahkan para pemburu untuk mengenyahkan celeng-celeng dari Denmark,” kata Larsen.
African swine fever (ASF) atau disebut juga flu babi Afrika tidak berbahaya bagi manusia dan hewan lain. Namun, bagi babi celeng dan babi peternakan, penyakit ini sangat mematikan, mereka bisa mati semua dalam waktu 10 hari setelah terinfeksi. Saat ini belum ada vaksi babi yang dapat mencegah penyakit tersebut.
Selain akan membuat pagar sebagai upaya pencegahan penyebaran ASF, pemerintah Denmark juga memberlakukan denda besar kepada pihak-pihak yang tidak membersihkan kendaraan pengangkut hewannya. Para pengimpor makanan ilegal akan dikenai hukuman serupa.
Pagar yang akan didirikan diperkirakan setinggi 5 meter. Pagar akan dilengkapi dengan cattle grids, semacam jembatan berbilah kayu atau besi renggang yang bisa memerangkap kaki hewan yang melintasinya sehingga tidak dapat bergerak lebih jauh.*