Hidayatullah.com—Patriark Gereja Ortodoks Ethiopia yang sangat berpengaruh, Uskup Merkorios, akhirnya kembali ke ibukota Addis Ababa setelah mengasingkan diri selama 27 tahun.
Perdana menteri Ethiopia yang baru, Abiy Ahmed, bertemu dengan Merkorios pekan lalu di Amerika Serikat dan menyarankannya agar melakukan rekonsiliasi dengan faksi rivalnya di gereja. Abiy Ahmed, yang terpilih sebagai perdana menteri bulan April lalu dikenal sebagai politisi reformsis yang ingin mengakurkan pihak-pihak yang bertikai di Ethiopia.
Uskup Merkorios disambut oleh para pengikutnya, yang bernyanyi serta melolong-lolong bersuka cita dengan kepulangannya, lapor BBC Sabtu (4/8/2018).
Gereja Ortodoks Ethiopia terpecah belah sejak awal 1990-an setelah rezim komunis pimpinan Mengistu Haile Mariam digulingkan.
Politik dan gereja terjalin erat di Ethiopia. Uskup Merkorios dipaksa melepaskan jabatannya setelah Ethiopian People’s Revolutionary Democratic Front (EPRDF) menggulingkan rezim komunis itu. Para pengikut Merkorios keberatan dengan penggusuran jabatannya itu dan bersikukuh menyatakan bahwa jabatan patriark berlaku seumur hidup.
Akhirnya, tempat Merkorios digantikan oleh Uskup Paulos yang diangkat sebagai patriark pada tahun 1992. Paulos menjadi orang dari etnis Tigray pertama yang memimpin Gereja Orthodoks Ethiopia. Ketika dia meninggal dunia pada tahun 2012, Uskup Mathias diangkat sebagai penggantinya.
Uskup Merkorios yang digusur mengasingkan diri ke Amerika Serikat, di mana dia mendirikan sinode tandingan. Merkorios dipandang sebagai sosok yang mewakili diaspora dan oposisi di pengasingan.
Oleh karena sekarang ada dua patriark, Uskup Merkorios akan bertanggung jawab dalam urusan spiritual gereja, sementara Uskup Mathias menangani urusan harian gereja.
Lebih dari 40% dari sekitar 100 juta penduduk Ethiopia menganut ajaran Gereja Orthodoks. Di negara itu terdapat sejumlah gereja tertua di dunia, yang sekarang dimasukkan dalam perlindungan Unesco, seperti gereja yang dibuat dari ukiran batu di Lalibela.*