Hidayatullah.com—Ini adalah kisah pengalaman saya, bulan Agustus 2017. Biasanya, di akhir semester, setiap tahun, The International University of Africa (IUA), dimana saya tengah menjalani studi, memiliki program khusus yang diwajibkan bagi setiap mahasiswa dan semua fakultas bernama Koofilah atau lebih di kenal dengan rihlah adda’awiyah selama 20 hari.
Dalam program wajib ini, kami utus untuk berangkat ke wilayah Khuway, bersama dengan puluhan mahasiswa lainnya dari beberapa negara yang mayoritas dari Negara Afrika.
Wilayah al Khuwaw berada di Kabupaten Kurdufan Barat, Sudan.
Sedang mahasiswa asal Indonesia yang bersama kami berjumlah 4 orang dan beberapa mahasiswa dari negara tetangga, Thailand.
Di tempat ini, kami betul-betul diajarkan bagaimana tatacara berdakwah di tempat pedalaman, khususnya di wilayah Afrika. Kami dilatih untuk bisa berbicara di depan orang-orang banyak. Setiap waktu sholat kami disuruh berpencar untuk mendatangi masjid-masjid yang ada di wilayah tersebut, untuk menyampaikan dakwah juga mengajar di beberapa sekolah.

Dengan diawasi beberapa dosen yang ikut bersama kami, salah satu pengalaman yang kami dapatkan ialah ketika kami diberi tugas untuk mengajar di salah satu sekolah tingkat SD khusus laki-laki.
Sebagaimana diketahui, di Sudan laki-laki dan perempuan mempunyai sekolah sendiri- sendiri. Yang membuat kami kaget, ketika kami mendapatkan jadwal untuk mengajar pelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak Sudan yang terbiasa menggunakan Bahasa Arab. Dengan semangat yang kuat dan keterbatasan kami dalam Bahasa Inggris, kami terpaksa mengajar kepada mereka.
Biidznillah, kami bisa mengajar kepada mereka Bahasa Inggris, hadits dan Al-Quran. Pengalaman lain yang kami rasakan adalah keramaham penduduk di wilayah tersebut, dimana dengan keterbatasan yang mereka miliki, tidak sebanding dengan pelayanan pelayanan yang mereka berikan.
Wilayah Khuway adalah wilayah yang memiliki penghasilan peternakan kambing dan unta. Bahkan di wilayah tersebut setiap hari Selasa, mereka mengadakan suq kabir (pasar besar). Di pasar ini dijual beberapa hewan di antaranya unta dan kambing, dimana pembelinya datang dari negara Negara Teluk, Mesir dan Saudi, semuanya datang ke wilayah tersebut untuk membeli hewan yang akan dijual kembali di negara mereka.
Alhasil, rihlah dua pecan masih menghasilkan sedikit ilmu dan pengalaman.
Seorang guru bernama Aiman, mengaku bersyukur dengan adanya acara ini, mereka berharap acara seperti ini selalu diadakan setiap tahun.

Sementara para pengajar mengaku senang melihat semangat dan antusiasme anak-anak meski kondisi mereka serba terbatas.
“Sangat senang bisa mengajarkan anak-anak meski berbagai keterbatasan fasilitas yang mereka miliki, mereka tetap semangat,”ujar salah satu pengajar yang tak mau disebutkan namanya di rombongan kami.
Sementara seorang petugas keamanan, Usamah (50) di wilayah Khuway merasa bahagia dengan kehadiran para mahasiswa berbagai Negara. “Semoga acara seperti ini berlanjut setiap tahun,” katanya.
Memang pengalaman tidak seberapa, tetapi sangat berharga, khususnya bagi saya warga Indonesia pernah mengajar anak-anak di wilayah Afrika, anak anak yang penuh semangat di tengah keterbatasan mereka.*/Nuruzzaman, mahasiswa Universitas Internasional University of africa (IUA)