Hidayatullah.com–Kelompok hak asasi internasional hari Selasa mengcecam penuntutan dan persekusi 24 anggota Baha’i Yaman, termasuk perempuan dan remaja, oleh pengadilan yang dilakukan pemberontak Syiah al Houthi atas tuduhan mata-mata.
Lynn Maalouf, Deputi Direktur Riset Amnesty International di Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan kelompok itu khawatir penganut Baha’i menerima hukuman mati di tengah “proses yang sangat tidak adil”, tulis Arabnews hari Selasa, (18/09/2018).
Pengadilan dibuka hari Sabtu dan telah ditunda sampai 29 September. Seorang pengacara yang mengikuti kasus tersebut mengatakan proses pengadilan berlangsung sangat cepat dan sebagian besar terdakwa diadili secara in absentia karena hanya lima yang ditahan.
Iran melarang agama Baha’i, yang didirikan pada 1844 oleh seorang bangsawan Persia.
Pemberontak Syiah al Houthi yang didukung Iran telah mengkudeta pemerintahan Yaman utara sejak 2014, setelah pemerintah yang sah meninggalkan negara itu dan mencari dukungan militer oleh koalisi Negara Teluk yang dipimpinan Arab Saudi.
Syiah al Houthi telah melakukan kampanye habis-habisan melawan semua lawan politik dan agama dan menahan ribuan orang di tahanan, di mana penyiksaan merajalela.
Baca: Siapa Pemberontak Syiah Hautsi Yang Diperangi Koalisi Negara Arab [1]
Pemimpin kelompok pemberontak Syiah al Houthi telah menargetkan penganut Baha’i dalam pidato publik yang menggambarkan mereka sebagai “setan” dan beberapa Baha’i telah ditahan, disiksa dan tangkap tanpa dapat dihubungi, menurut perwakilan komunitas PBB.
Seorang tokoh Baha’i dijatuhi hukuman mati atas tuduhan berkolaborasi dengan Israel. Pada tahun 2016, lebih dari 60 wanita, pria dan anak-anak yang berpartisipasi dalam pertemuan pendidikan yang diselenggarakan oleh kelompok Baha’i ditangkap sebagai bagian dari tindakan keras terhadap komunitas keagaman.
Bani Dugal, Wakil Utama Komunitas Baha’i Internasional untuk PBB, menyatakan keprihatinan dalam sebuah pernyataan dan mengatakan tuduhan kepada kelompoknya “sangat mengkhawatirkan dan menandai intensifikasi tekanan yang luar biasa parah.”
Dia juga mengatakan bahwa target Syiah al Houthi kepada Baha’i adalah “menakutkan mengingatkan pada penganiayaan Baha’is di Iran pada 1980-an di mana para pemimpin komunitas Baha’i ditangkap dan dibunuh,” ujarnya.*