Hidayatullah.com—Agnes Buzyn, yang menjabat menteri kesehatan Prancis ketika wabah Covid-19 merambah dunia, hari Jumat (10/9/2021) didakwa “membahayakan nyawa orang lain”.
Dilansir Euronews, dakwaan diproses oleh Cour de Justice de la République – pengadilan khusus di Prancis yang menangani kasus berkaitan dengan kebijakan dan pejabat pemerintah – sebagai bagian dari investigasi terhadap penanganan krisis kesehatan oleh pemerintah Prancis.
Dakwaan diumumkan beberapa jam setelah Buzyn diperiksa oleh kejaksaan. Sebelum menjalani pemeriksaan, politisi wanita itu mengatakan kepada para reporter bahwa itu adalah “kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk menjelaskan dan meluruskan masalah.”
“Saya tidak akan membiarkan tindakan pemerintah, tindakan saya sebagai menteri, untuk dikotori ketika kami telah melakukan banyak hal untuk mempersiapkan negara kita menghadapi krisis kesehatan global yang, perlu saya ingatkan kepada Anda, saat ini masih berlangsung,” imbuhnya.
Buzyn, 58, mundur dari jabatan menteri kesehatan pada Februari 2020 untuk mencalonkan diri dalam pemilihan walikota Paris dari partai aliran tengan pimpinan Presiden Prancis Emmanuel Macron, La Republique en March (LREM).
Pada akhir Januari 2020 ketika di Prancis sudah ada laporan tentang tiga kasus infeksi coronavirus, Buzyn – seorang ahli hematologi – memberikan prediksi bahwa penyebaran virus itu di negaranya “sangat rendah”, karena kota Wuhan sudah melakukan lockdown ketat. Meskipun demikian, kala itu dia juga mengatakan situasinya bisa berubah.
Dia juga dikritik keras ketika diketahui bahwa negaranya kekurangan Personal Protective Equipment (PPE), terutama masker untuk petugas kesehatan, setelah menegaskan pada bulan Januari bahwa Prancis memiliki “stok puluhan juta masker kalau-kalau terjadi epidemi”.
Setelah hanya berhasil berada di peringkat ketiga dalam pemilihan walikota Paris, Buzyn mengeluarkan pernyataan bahwa dia memberi tahu Macron dan pemerintah sebelum pertengahan Januari tentang risiko coronavirus.
“Menurut saya, saya adalah orang pertama yang melihat apa yang terjadi di China,” katanya kepada koran Le Monde.
“Ketika saya meninggalkan tugas (kementerian), saya menangis karena saya tahu bahwa gelombang tsunami ada di depan kita. Sejak awal, saya hanya memikirkan satu hal: coronavirus. Kita seharusnya menghentikan semuanya itu,” imbuhnya.
Prancis merupakan negara yang terkena dampak paling buruk kedua di Uni Eropa setelah Italia dengan lebih dari 115.000 nyawa hilang akibat Covid-19.
Pihak berwenang telah menerima ribuan keluhan tentang penanganan pandemi, beberapa puluh kasus di antaranya dianggap layak untuk diproses oleh CJR, yang kemudian mulai melakukan penyelidikannya pada bulan Juli 2020.
Sejak itu, penggeledahan telah dilakukan di rumah dan kantor mantan perdana menteri Edouard Philippe, Buzyn dan penggantinya di kementerian kesehatan, Olivier Véran.
Menyusul kekalahannya dalam pemilihan walikota Paris, Buzyn sempat kembali ke praktik kedokteran sebelum diberi jabatan di World Health Organisation (WHO) sebagai Director General’s Envoy for Multilateral Affairs pada bulan Januari 2021.*