Hidayatullah.com– Laporan tahunan tentang kebebasan beragama internasional diterbitkan oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, umat Hindu menggunakan kekerasan, pelecehan dan ancaman terhadap Muslim dan kelompok kasta Dalit, kasta rendah pada tahun 2017.
“Serangan gerombolan oleh kelompok ekstremis Hindu yang kejam terhadap komunitas minoritas, terutama Muslim, terus berlanjut sepanjang tahun di tengah rumor bahwa para korban telah berdagang atau membunuh sapi untuk daging sapi,” kata dokumen itu dikutip The Independent.
Laporan bertajuk “2018 Report on International Religious Freedom: India” mengatakan pihak berwenang “sering melindungi pelaku dari penuntutan” dan bahwa serangan “termasuk tuduhan keterlibatan oleh petugas penegak hukum”.
“Ada laporan tentang pembunuhan, penyerangan, kerusuhan, diskriminasi, vandalisme, dan tindakan bermotivasi agama yang membatasi hak individu untuk mempraktikkan keyakinan dan dakwah agama mereka. Menurut data Kementerian Dalam Negeri (MHA) yang disajikan di majelis rendah parlemen pada 6 Februari, insiden komunal meningkat 9 persen dari 2015 hingga 2017, dengan 822 insiden yang mengakibatkan 111 kematian dan 2.384 cedera pada 2017,“ tulis laporan itu.
Pihak berwenang dinilai sering gagal menuntut pelaku serangan “penjahat sapi” termasuk pembunuhan, kekerasan massa, dan intimidasi, kutip laman state.gov, Jumat (21/6/2019).
Pada 21 Juli, sebuah kelompok menyerang dan membunuh Rakbar Khan, seorang peternak sapi perah Muslim dari Haryana, ketika dia mengangkut dua sapi di malam hari.
Pada bulan Desember, sekitar 300 orang, marah dengan laporan tentang sapi yang disembelih di daerah itu, membakar kantor polisi di Chigrawati dan membunuh seorang petugas polisi. Seorang pemrotes berusia 18 tahun juga tewas dalam kekerasan itu.
Massa menyerang dua pria Muslim, menewaskan satu, di Satna District Madhya Pradesh pada 17 Mei, menuduh mereka membantai seekor sapi jantan. Polisi menangkap empat penyerang dan mengajukan pengaduan yang menuduh pembantaian sapi terhadap korban yang selamat.
Pada 20 Januari, seorang pendeta Kristen ditemukan tewas di kediamannya di Tamil Nadu. Para anggota kongregasinya menuduh dia telah dibunuh, dan bahwa dia telah menjadi korban pelecehan yang sering dilakukan oleh organisasi-organisasi fundamentalis Hindu.
Menurut Laporan Tahunan LSM Persecution Relief yang dirilis pada bulan Januari, ada 736 insiden penganiayaan terhadap orang Kristen pada tahun 2017 dibandingkan dengan 348 pada tahun 2016.
Pemerintahan Narendra Modi telah lama dituduh telah meminggirkan minoritas Kristen dan Muslim sejak ia memegang tampuk kekuaasaannya pada tahun 2014.
Dalam laporan yang dirilis hari Jumat (21/6), AS menyebut beberapa pejabat senior dari partai Perdana Menteri India Narendra Modi, yakni Bharatiya Janata Party (BJP) telah membuat pidato yang bersifat menghasut terhadap pemeluk agama minoritas di negara itu tahun lalu.
Kementerian Luar Negeri India menolak laporan itu dengan mengklaim bahwa entitas asing atau asing tidak berhak mengkritik hak-hak rakyatnya yang dilindungi secara konstitusional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Raveesh Kumar mengatakan konstitusi negaranya menjamin hak-hak dasar dan kebebasan beragama semua warganya, termasuk komunitas minoritas Muslim yang populasinya mencapai 14 persen dari total penduduk India.
“Kami tidak melihat locus stan di (kedudukan hukum) untuk entitas asing yang menyatakan status hak warga negara kami yang dilindungi secara konstitusional,” ujarnya pada Ahad (23/6).
Menlu AS Mike Pompeo dijadwalkan mengunjungi India hari Selasa (25/6) mendatang untuk memperkuat hubungan antara kedua negara guna membahas masalah tarif, peraturan perlindungan data, visa AS untuk warga negara India dan pembelian senjata dari Rusia.
Belum diketahui apakah laporan Departemen Luar Negeri AS tentang praktik kebebasan beragama di India akan mengganggu kunjugannya ke negara tersebut, kutip Reuters.*