Hidayatullah.com– Haaretz, sebuah harian Israel telah menyoroti “peran memalukan” negara itu dalam “kampanye genosida” rezim militer Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya, dengan mengutip penjualan persenjataan Tel Aviv ke negara Asia Tenggara dan hubungan yang berkembang antara kedua negara.
Kemarin dalam kolom opininya oleh Charles Dunst, harian itu mengkritik sikap pasif Israel terhadap populasi Rohingya, mengklaim bahwa Israel memberikan Myanmar alat dan ruang diplomatik untuk melakukan kekejaman itu.
Dunst juga menyebut bagaimana dia bertemu dengan Duta Besar Israel untuk Myanmar pada tahun lalu, Ronen Gilor, dan mengajukan pertanyaan tentang penindasan Rohingya dan penjualan senjata Israel kepada negara itu, di mana Gilor menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Gilor baru-baru ini mendapat kecaman karena tweet yang saat ini sudah dihapus di mana dia menyampaikan “semoga sukses” kepada delegasi Myanmar yang dipimpin oleh pemimpin de facto Aung San Suu Kyi menjelang sidang genosida di Den Haag, yang berlangsung pada hari Selasa.
Pernyataan itu kemudian dikecam oleh Kementerian Luar Negeri yang menyebutnya “kesalahan”.
Lebih dari 730.000 Muslim Rohingya telah menyelamatkan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak operasi militer 2017 oleh militer Myanmar membunuh 24.000 orang, penyelidik PBB mengatakan itu dilakukan dengan “niat genosida”.
Menurut sebuah laporan oleh Lembaga Pengembangan Internasional Ontario (OIDA), “sekitar 18.000 wanita dan perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak”.
Myanmar yang mayoritasnya beragama Buddha menolak tuduhan genosida.
Menurut UU Kewarganegaraan Burma 1982, warga negara Myanmar termasuk dalam delapan ras: Bamar, Chin, Kachin, Kayin, Kayah, Mon, Rakhine, dan Shan, yang terbagi menjadi 135 kelompok etnis yang berbeda. Rohingya tidak dianggap kelompok manapun dan karenanya dianggap bukan warga negara. Malah mereka disebut sebagai “Bengal”.
Sebelumnya dikenal sebagai Burma, perdana menteri pertama Myanmar U Nu dikatakan memiliki “senang dengan Israel,” dan dekat dengan Perdana Menteri pertama Israel David Ben-Gurion. Nu adalah perdana menteri pertama yang mengunjungi negara “Israel” yang baru lahir pada 1955.*