Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tahun 2019 Rekor Pembunuhan Massal di Amerika Serikat

Ama Farah
Terakhir diupdate: 29 Desember 2019 12:29 12:29 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 29 Desember 2019 12:29
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Pada tahun 2019 di Amerika Serikat terjadi pembunuhan massal yang jumlahnya melebihi catatan tahun-tahun sebelumnya.

Database yang dibuat oleh Associated Press (AP), USA Today dan Northeastern University menunjukkan terjadi 41 insiden penembakan massal dengan jumlah korban nyawa 211 sepanjang tahun 2019 di seluruh Amerika Serikat.

Pembunuhan massal didefinisikan sebagai kematian empat atau lebih orang dalam satu insiden sama, tidak termasuk pelaku.

Termasuk insiden paling mematikan tahun 2019 adalah pembunuhan 12 orang di Virginia Beach pada bulan Mei dan 22 orang di El Paso pada bulan Agustus.

Dari 41 insiden itu sebanyak 33 melibatkan senjata api, kata para peneliti. California merupakan negara bagian dengan insiden pembunuhan massal terbanyak, delapan kasus.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Database itu sudah melacak pembunuhan massal di AS sejak 2006. Namun, hasil penelusuran hingga ke tahun 1970-an menunjukkan tidak pernah terjadi insiden pembunuhan massal sebanyak tahun 2019, lapor AP seperti dilansir BBC Sabtu (28/12/2019). Tahun kedua terbanyak insiden pembunuhan massal adalah 2006.

Meskipun jumlah insiden di tahun 2019 merupakan yang terbanyak, tetapi jumlah korban jiwa 211 kalah dari tahun 2017 yang mencapai 224 korban jiwa. Pada tahun itu terjadi penembakan massal paling berdarah dalam sejarah AS, ketika 59 orang ditembak mati dalam sebuah festival di Las Vegas.

Banyak kasus pembunuhan massal di AS tidak menjadi kepala berita utama di media karena kebanyakan merupakan akibat perselisihan keluarga atau pertarungan antargeng dan narkoba, dan tidak tumpah ke tempat publik, kata peneliti.

Jumlah pembunuhan massal di AS naik meskipun secara keseluruhan jumlah pembunuhan berkurang, kata James Densley, seorang pakar kriminologi dan profesor di Metropolitan State University di Minnesota.

Densley mengatakan dirinya meyakini kenaikan pembunuhan massal ini sebagian diakibatkan atau konsekuensi dari “masa sulit yang menyulut kemarahan dan frustasi” di dalam masyarakat AS.

Namun, dia menambahkan bahwa kejahatan pembunuhan cenderung terjadi dalam pola gelombang dari waktu ke waktu. “Sepertinya sekarang eranya penembakan massal,” ujarnya.

Banyaknya kasus penembakan massal sepanjang tahun ini menghidupkan kembali perdebatan, pro dan kontra soal aturan kepemilikan senjata api di Amerika Serikat.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika Serikatpembunhan massal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Geert Wilders Kembali Umumkan Lomba Karikatur Nabi Muhammad
Tulisan selanjutnya Turis China dan India 2020 Bisa Kunjungi Malaysia Tanpa Visa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?