Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

BAMF: Jerman Lebih Baik Mencari Pekerja Terampil dari Eropa Selatan

Ama Farah
Terakhir diupdate: 3 Februari 2020 19:42 7:42 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 3 Februari 2020 19:42
Bagikan
Pengungsi Iraq di Jerman.
Bagikan

Hidayatullah.com—Pimpinan Kantor Federal Urusan Migrasi dan Pengungsi Jerman (BAMF) Hans Eckhard Sommer mengatakan bahwa mengintegrasikan pengungsi ke dalam pasar tenaga kerja Jerman, dan menyeru agar Jerman fokus menarik para pekerja terampil dari negara-negara di selatan Eropa.

Dalam wawancara dengan koran Jerman Rheinische Post terbitan hari Sabtu (1/2/2020), Sommer mengatakan bahwa ada banyak pemuda pengangguran berpendidikan di Eropa Selatan yang dianggap “lebih mudah” berintegrasi.

Mulai 1 Maret 2020 pemerintah Jerman akan menerapkan undang-undang imigrasi tenaga kerja terampil untuk lebih memudahkan orang-orang asing berkemampuan tinggi bekerja di Jerman, lansir DW.

Berdasarkan undang-undang Uni Eropa, tidak ada rintangan hukum bagi warga negara-negara anggota UE untuk bekerja di negara lain yang tergabung dalam blok ekonomi terbesar dunia itu.

“Menurut saya kita harus berkonsentrasi lebih keras dalam merekrut tenaga-tenaga profesional dari Eropa,” kata Sommer.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sommer mengatakan bahwa BAMF selama ini selalu menyadari hanya ada segelintir pekerja terampil potensial yang tiba di Jerman sebagai pengungsi, seraya menambahkan bahwa sekitar 17% partisipan dari kursus integrasi yang digelar BAMF merupakan orang-orang buta huruf.

Meskipun demikian, Sommer mengatakan bahwa pengungsi yang mengikuti kursus literasi bisa dianggap “sangat berkomitmen.” Sekitar 13% pasrtisipan yang belum pernah sama sekali belajar membaca dan menulis mampu memahami bahasa Jerman hingga tingkat intermediate, yang normalnya diajarkan selama enam tahun pendidikan dasar.

Pimpinan BAMF itu juga memperingatkan agar tidak merekrut terlalu banyak tenaga kerja terampil dari negara-negara berkembang, sebab hal itu akan mengakibatkan negara-negara yang perekonomiannya belum maju akan sulit berkembang dikarenakan kehilangan banyak orang pandai.

“Saya menilainya problematik apabila kita membawa banyak orang berpendidikan tinggi ke Jerman dari negara-negara yang belum berkembang,” kata Sommer, menyarankan Jerman lebih baik memberikan dukungan pendidikan dan penciptaan lapangan kerja.

“Apabila kita menghalangi atau tidak mendukung perkembangan negara-negara ini, maka kita sendiri berisiko menciptakan gelombang pengungsi selanjutnya,” imbuh Sommer, mengingatkan akan krisis pengungsi yang membanjiri Jerman beberapa tahun terakhir yang kemudian memicu banyak masalah sosial dan keamanan, setelah Kanselir Jerman Angela Merkel memberlakukan kebijakan pintu terbuka bagi para pengungsi dan migran pada 2015.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ribuan Jamaah Antar Gus Solah ke Pemakaman di Tebuireng
Tulisan selanjutnya Berebut Minyak “Ajaib”, 20 Orang Tewas di Acara Kebaktian Gereja Tanzania

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?