Hidayatullah.com—Tentara Prancis telah membunuh lebih dari 30 militan Muslim di Mali dalam tiga operasi terpisah hari Kamis (6/2/2020) dan Jumat (7/2/2020) yang menarget kelompok-kelompok berkaitan dengan Al-Qaeda dan ISIS alias IS alias Daesh, kata Angkatan Bersenjata Prancis.
Prancis, negara bekas penjajah sejumlah negara di kawasan Afrika Barat, menempatkan sekitar 4.500 serdadunya di kawasan itu sebagai pasukan kontraterorisme dalam misi yang dinamai Operation Barkhane. Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa menugaskan sekitar 13.000 petugas penjaga perdamaian di Mali.
Di daerah Gourma, tentara Prancis membunuh sekitar 20 militan dan menghancurkan beberapa kendaraan. Di daerah Liptako, yang merupakan daerah pertahanan ISIS, lebih dari 10 militan tewas, kata militer Prancis seperti dilansir Reuters Sabtu (8/2/2020).
Serangan pasukan Prancis itu melibatkan sebuah drone, beberapa pesawat tempur dan dua helikopter, imbuhnya.
Hari Ahad lalu, Prancis mengatakan berencana menambah 600 lebih tentara guna memerangi kelompok-kelompok bersenjata Muslim di kawasan Sahel, daerah tandus di bagian selatan dari Gurun Sahara di Afrika Barat. Pasukan tambahan itu akan ditempatkan di Mali, Burkina Faso dan Niger.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Prancis dan Amerika Serikat sudah menggelontorkan miliaran dolar dalam upayanya memberantas kelompok-kelompok bersenjata dan menstabilkan kawasan Sahel, tetapi sampai saat ini hanya mendulang sedikit kesuksesan.*