Hidayatullah.com—Inggris sekarang merupakan negara dengan jumlah kematian akibat Covid-19 tertinggi di kawasan Eropa, menurut data terbaru pemerintah seperti dilapnsir BBC Selasa (5/5/2020).
Terdapat 29.427 kematian Covid-19 tercatat di seluruh Inggris, angka yang disebut Menteri Luar Neger Dominic Raab sebagai “sebuah tragedi yang masif.”
Angka itu melampaui Italia, yang sebelumnya menjadi yang tertinggi di Eropa, yang membukukan hingga saat ini 29.315 kematian akibat infeksi virus SARS-CoV-2.
Robert Cuffe, kepala statistik BBC, mengatakan bahwa Inggris mencapai angka kematian itu dalam waktu lebih cepat dibanding Italia. Namun demikian, perlu diingat bahwa populasi Inggris 10% lebih tinggi dibanding Italia.
Di samping itu, Italia sampai saat ini sudah melakukan tes Covid-19 lebih banyak dibanding Inggris. Kedua negara memiliki kebijakan berbeda terkait tes coronavirus mematikan ini.
Dengan banyaknya kematian itu apakah Inggris lantas lebih buruk dari Italia dalam menangani wabah?
Dalam keterangan pers harian berkaitan dengan wabah coronavirus, Raab mengatakan bahwa negara mana yang terbaik dalam mengatasi wabah tidak bisa disimpulkan sampai penyebaran penyakit ini berlalu.
Prof Sir David Spiegelhalter, dariUniversitas Cambridge, mengatakan kita bisa “memastikan” bahwa semua data yang dilaporkan “secara substansial lebih rendah” dari jumlah sebenarnya yang meninggal dunia akibat coronavirus.
“Kita bisa dengan aman (yakin) mengatakan bahwa tidak satu pun negara yang baik [dalam penanganan wabah ini], lagi pula ini bukan kontes Eurovision dan percuma untuk berupaya memeringkatkannya,” kata Spiegelhalter.
Perbandingan, menurut Prof Spiegelhalter, hanya masuk akal apabila semua penyebab kematian ditelaah, dipetakan distribusinya berdasarkan kelompok umur dari masing-masing negara itu. Meskipun demikian, hal itu tidak mudah dilakukan sebab setiap negara memiliki beragam perbedaannya masing-masing.
Hingga saat ini China, sebagai negara awal wabah, masih diragukan kevalidan data kematiannya sebab sejak awal negara itu disinyalir kuat berusaha menutupinya guna meredam kepanikan warga. Terakhir, pejabat China bahkan mengakui bahwa sejak awal mereka hanya menghitung kematian Covid-19 yang terjadi di rumah sakit atas orang-orang yang memang sudah dikonfirmasi positif coronavirus saja.
Hanya menghitung kematian Covid-19 di rumah sakit juga diakui sejumlah negara Eropa lain seperti Prancis dan Spanyol.*