Hidayatullah.com—Tun Dr Mahathir Mohamad tidak pernah setuju dengan keputusan Partai Pribumi Bersatu untuk meninggalkan Pakatan Harapan, kata putranya Datuk Seri Mukhriz Mahathir.
Menanggapi klaim kepala bagian informasi Partai Pribumi Bersatu Datuk Razi Jidin, Mukhriz mengatakan Mahathir pernah menyatakan dalam pertemuan petinggi partai bahwa dirinya merasa tidak nyaman untuk bekerja sama dengan UMNO.
Menurut Mukhriz, masalah Bersatu meninggalkan Pakatan dibahas panjang dan penuh emosi dalam pertemuan itu. “Ada banyak perbedaan pandangan dan paling penting Dr Mahathir sebagai pimpinan partai menyatakan bahwa dia tidak nyaman dengan kerja sama apapun dengan UMNO.”
“Beliau juga memperingatkan kami bahwa beliau tahu ketika seseorang membuat keputusan emosional, maka keputusan itu akan disesali,” kata Mukhriz dalam ceramah Pakatan yang disiarkan langsung lewat Facebook hari Sabtu (9/5/2020) seperti dilansir The Star.
Sebelumnya, Radzi mengklaim bahwa Mahathir awalnya setuju dengan keputusan Bersatu untuk meninggalkan Pakatan Harapan, hanya saja dia kemudian menarik persetujuannya di menit-menit terakhir.
Menurut Radzi, keputusan Bersatu untuk keluar dari Pakatan Harapan dan membuat koalisi dengan partai-partai lain adalah masalah yang sudah diketahui dan didukung oleh Mahathir sejak Pemilu ke-14 digelar pada Mei 2018.
Mukhriz mempertanyakan masa depan Bersatu apabila partai itu tetap bergabung dalam Perikatan Nasional, koalisi yang saat ini terdiri dari Bersatu, Barisan Nasional, PAS dan Gabungan Parti Sarawak.
Putra ketiga Mahathir itu berpendapat Bersatu kemungkinan justru akan terjebak “adu tanduk” memperebutkan kursi mayoritas dengan UMNO dan PAS.
“Akan lebih aman apabila kami (Bersatu) berada di dalam Pakatan sebab kami sudah memiliki hubungan yang erat setelah meruntuhkan pemerintahan kleoptokratik,” kata Mukhriz.
“Daripada bersama dengan kelompok yang selalu meremehkan kami, merundung kami, dan menekan kami, guna mendapatkan kursi di kementerian, badan-badan negara dan lainnya,” imbuhnya.
Sebagiamana diketahui Bersatu yang dipimpin Mahathir Mohamad bersedia meletakkan parang demi bekerja sama dengan murid sekaligus musuh politiknya, Anwar Ibrahim, untuk membentuk koalisi Pakatan Harapan guna menumbangkan pemerintahan PM Najib Razak (UMNO) yang korup lewat Pemilu ke-14 Mei 2018.
“Saya merasa Bersatu akan terkubur apabila kami bekerja sama dengan UMNO dan PAS,” ujar Mukhriz, yang pernah menjabat wakil menteri perdagangan internasional dan industri di kabinet pimpinan PM Najib Razak.
Usai keluar dari Pakatan Harapan bulan Februari lalu, Bersatu saat ini terpecah antara kubu yang mendukung Muhyiddin Yassin dan kubu yang mendukung Dr Mahathir.
Pindah ke lain hati, mengubah sikap dalam hitungan hari bahkan jam, menggandeng bekas musuh dan mendepak teman adalah fenomena yang biasa terjadi dalam dinamika politik di Malaysia. Jangankan berpindah kubu, saling mengkafirkan dan mengharamkan sesama Muslim pun pernah terjadi, seperti antara Mahathir Mohamad dan Hadi Awang pemimpin PAS.*