Hidayatullah.com—Perwakilan dari 194 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan ini akan menggelar pertemuan tahunan ke-73 World Health Assembly, yang kali ini akan digelar secara virtual. Masalah pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh coronavirus akan menjadi agenda utama.
Dilansir BBC Senin (18/5/2020), Uni Eropa diperkirakan akan memimpin seruan internasional, bersama Inggris, Australia dan New Zealand, untuk dilakukannya pemeriksaan tentang bagaimana pandemi global Covid-19 ditangani sejauh ini dan apa saja pelajaran yang bisa diambil.
Jubir UE Virginie Battu-Henriksson mengatakan sejumlah pertanyaan kunci perlu dijawab sebagai bagian dari penelaahan itu.
“Bagaimana wabah ini menyebar? Apa epidemiologi di belakangnya? Semua ini sangat krusial bagi kita untuk melangkah maju, menghindari pandemi serupa lainnya.”
Namun demikian, dia mengatakan bahwa sekarang bukan saatnya untuk bermain saling menyalahkan.
WHO diperkirakan akan mendapat banyak tekanan terkait kebijakannya dalam penanganan pandemi Covid-19 dalam pertemuan itu.
WHO yang seharusnya mewakili kepentingan seluruh anggotanya secara adil, sempat terjebak dalam pertikaian politik antara Amerika Serikat dan China terkait asal usul coronavirus penyebab Covid-19, yang diberi nama resmi SARS-CoV-2.
Pertikaian mencapai puncaknya bulan lalu ketika Amerika Serikat —negara yang paling banyak menopang kebutuhan finansial WHO— menolak untuk terus menjadi penyandang dana setelah Presiden AS Donald Trump menuding WHO ikut menutup-nutupi asal usul virus dan penyebarannya di China.
Lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu tidak memiliki kewenangan memaksa negara anggota untuk memberikan semua informasi yang dimilikinya tentang kemunculan suatu penyakit atau situasi kesehatan di suatu negara.
Dalam pertemuan ke-73 ini, World Health Assembly diduga akan membahas soal pemberian wewenang lebih besar kepada WHO sehingga organisasi itu diperbolehkan masuk ke suatu negara di awal terjadinya wabah guna melakukan penyelidikan independen.
Saat ini, negara-negara anggota diminta untuk memberikan informasi kepada WHO apabila ada penyakit yang muncul di wilayah mereka, sebagai bagian dari International Health Regulations. Peraturan inilah yang diduga akan diperdalam pada pertemuan tahun ini.
“Apabila WHO dapat mengirimkan satu misi teknis internasional yang pekerjaannya bukan menudingkan kesalahan ke pihak-pihak tertentu, melainkan benar-benar mengidentifikasi asal usul wabah, dan memberikan saran terbaik untuk negara bersangkutan, maka ini akan menjadi cara positif untuk mencegah merebaknya wabah,” kata Devi Sridhar, profesor bidang kesehatan global di University of Edinburgh, seperti dikutip BBC.*