Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Angka Kelahiran di Jerman Turun, Wanita Berpendidikan Menunda Berkeluarga

Ama Farah
Terakhir diupdate: 11 Agustus 2020 19:03 7:03 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 11 Agustus 2020 19:03
Bagikan
Muslim di Jerman Meningkat
Anak Muslim di Jerman.
Bagikan

Hidayatullah.com—Angka kelahiran di Jerman menurun, sementara populasinya menua dan kaum wanita yang berpendidikan tinggi cenderung menunda memiliki keluarga.

“Saya tidak ingin memiliki anak sampai diri saya siap.” Pernyataan seperti itu kerap didengar pakar ginekologi di Hamburg Christine Biermann dari pasiennya.

“Pencarian akan pekerjaan sempurna dan pasangan ideal merupakan faktor penentu bagi para wanita untuk menunda melahirkan anak selama beberapa tahun,” kata Biermann.

Pada tahun 2019 di Jerman terdapat 788.000 kelahiran. Angka itu 9.400 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, atau tingkat kelahiran hanya 1.54 per wanita, menurut data terbaru yang dirilis kantor pusat statistik Jerman, Destatis, seperti dilansir DW (31/7/2020).

Itu merupakan rata-rata kelahiran di kalangan negara anggota Uni Eropa, Prancis yang paling tinggi sedangkan Malta yang terendah.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Rata-rata wanita Jerman memiliki anak pertamanya tidak lama setelah mereka memasuki usia 30 tahun. Itu merupakan usia tertua di kalangan UE setelah Italia. Sementara wanita di Bulgaria menjadi yang termuda, memulai keluarga kecil mereka sendiri pada usia 26 tahun.

Wanita yang berpendidikan lebih baik memiliki anak lebih sedikit, tidak hanya di Jerman tetapi juga di berbagai negara lain, sebab memiliki keluarga hanyalah satu dari sekian banyak pilihan lain yang ingin dilakukan wanita dalam hidupnya.

Di berbagai kota di Jerman bagian barat, satu dari lima wanita berusia 45-54 tahun tidak memiliki anak sama sekali. Kebanyakan mereka merupakan akademisi, yang menghabiskan banyak waktu untuk karir profesionalnya.

“Kita memiliki banyak mahasiswa perguruan tinggi,” kata Philipp Deschermeier dari German Society for Demography.

“Ketika mereka lulus kuliah mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang baik, yang mengharuskan mereka banyak keluar rumah. Ini merupakan tantangan dalam merencanakan sebuah keluarga. Jadi kita memerlukan opsi lebih banyak yang memungkinkan orang dapat bekerja dari rumah atau paruh waktu, serta tambahan fasilitas penitipan anak sehingga kedua orangtua dapat bekerja,” papar Deschermeier.

Martin Bujard, direktur riset di German Institute for Population Research (BiB), mengatakan tidak perlu khawatir dengan angka-angka tersebut, sebab selama 10 tahun terakhir sebenarnya Jerman menunjukkan tren positif.

“Kenaikan tingkat kelahiran sejak 2010 merupakan kisah sukses,” ujarnya. “Salah satu penyebabnya adalah investasi dalam perbaikan layanan perawatan anak. Jumlah tempat penitipan anak balita naik dari 10 menjadi 30 persen sejak tahun 2007.” Meskipun demikian di mengakui masih ada yang harus ditingkatkan.

Sebuah survei yang dilakukan BiB menunjukkan bahwa dua pertiga orang muda Jerman mengatakan memiliki banyak anak merupakan hal yang luar biasa. Namun, setengah dari kaum muda juga mengatakan bahwa memiliki keluarga besar (banyak anak) hanya mungkin diwujudkan oleh mereka yang berkecukupan atau memiliki pendapatan tinggi.

Namun, pada kenyataannya di Jerman sekitar seperempat keluarga yang memiliki tiga anak atau lebih mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Hanya 16% keluarga di Jerman yang memiliki tiga anak atau lebih, yang lagi-lagi merupakan rata-rata di kalangan Uni Eropa.

Studi yang dirilis BiB tahun lalu menunjukkan bahwa keluarga besar di Jerman cenderung memiliki latar belakang keagamaan yang kuat –kebanyakan dari kalangan Muslim, serta Katolik— dan mereka tinggal di mana biaya akomodasinya terjangkau, yaitu di daerah suburban atau pedesaan dan bukan di pusat kota.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakJermankelahiranKeluargawanita
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslimah Hidayatullah dan BMH Gelar Pemulihan Trauma di Pengungsian Masamba
Tulisan selanjutnya Insiden Penembakan Dekat Gedung Putih, Trump: Apa Saya Kelihatan Gemetar?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?