Hidayatullah.com–Seorang pengusaha dari Uni Emirat Arab mengatakan kemarin bahwa dia saat ini sedang dalam pembicaraan dengan maskapai penerbangan terbesar ketiga ‘Israel’ untuk membangun penerbangan langsung antara ‘Israel’ dan UEA, The Jerusalem Post melaporkan.
Dalam sebuah wawancara dengan Channel 13 ‘Israel’, Khalaf Ahmad Al Habtoor, seorang taipan real estate UEA, berkata, “Itu benar, tim saya dan tim ‘Israel’, sore ini ada pembicaraan tentang pendekatan satu sama lain mengenai maskapai penerbangan komersial dan carter untuk turis,” ungkapnya.
CEO Israir Uri Sirkishas juga mengumumkan kemarin bahwa dia telah memulai proses mendapatkan izin pendaratan untuk mengoperasikan penerbangan langsung antara Tel Aviv dan UEA.
Dia mengatakan dubai kepada penyiar publik Israel Kan bahwa Dubai, khususnya, adalah tujuan yang “sangat, sangat menarik”, memprediksi UEA terbukti populer di kalangan turis dan pebisnis ‘Israel’.
Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pekan lalu bahwa dia telah menengahi “kesepakatan damai” antara Abu Dhabi dan Tel Aviv yang akan membuat keduanya menjalin hubungan diplomatik, perdagangan dan komersial. Sementara, Palestina menganggap kesepakatan ini sebagai “penusukan dari belakang” dan “pengkhianatan” kepada rakyat Palestina.
“Ini adalah keputusan besar yang diambil oleh para pemimpin ‘Israel’ dan pemimpin UEA, maksud saya, apa yang telah mereka lakukan, sungguh, itu hebat,” tambah Al Habtoor. “Ini akan membuat perbedaan besar antara kedua negara kita dan untuk negara lain yang akan segera menyusul.”
Selain itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Senin (17/08/2020) juga mengumumkan bahwa Israel sedang mempersiapkan penerbangan langsung, melalui Arab Saudi, ke UEA sebagai bagian dari kesepakatan normalisasi.
“Kami saat ini sedang berupaya mengaktifkan penerbangan langsung, melalui Arab Saudi, antara Tel Aviv dan Dubai dan Abu Dhabi,” kata Netanyahu kepada wartawan, memperkirakan waktu penerbangan “sekitar tiga jam, seperti ke Roma”.
Menurut The Jerussalem Post, Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi bahwa mereka memiliki staf di lapangan yang mencari situs di Abu Dhabi untuk Kedutaan Besar Israel.
Abu Dhabi mengatakan kesepakatan itu adalah upaya untuk mencegah rencana pencaplokan Tel Aviv atas Tepi Barat yang diduduki. Namun, berbagai pihak percaya upaya normalisasi telah dimulai selama bertahun-tahun, karena bahkan sebelum normalisasi, pejabat ‘Israel’ telah melakukan kunjungan resmi ke UEA dan menghadiri konferensi di Uni Emirat Arab, yang saat itu tidak memiliki hubungan diplomatik atau lainnya dengan ‘Israel’.
Netanyahu sendiri mengatakan dalam pidato telivisi pada Kamis (13/08/2020) setelah setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut, bahwa ia hanya setuju untuk “menunda” pencaplokan, dan bahwa dia tidak akan pernah “menyerahkan hak kami atas tanah kami”.
Sementara Netanyahu memuji “era baru” antara Israel dan dunia Arab menyusul kesepakatan dengan UEA, Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas menyuarakan “penolakan dan kecaman yang kuat” dan menyerukan pertemuan darurat Liga Arab.
Dalam sebuah pernyataan, Abbas menyebut kesepakatan itu sebagai “agresi” terhadap rakyat Palestina dan “pengkhianatan” terhadap perjuangan mereka, termasuk klaim mereka atas Yerusalem sebagai ibu kota negara masa depan mereka.
Harakah Al Muqâwama Al-Islâmiyyah atau Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Gaza, menolak pakta ‘Israel’-UEA, menyebutnya sebagai “hadiah untuk pendudukan dan kejahatan Israel” dan mengatakan itu “tidak memikirkan rakyat Palestina”.*