Hidayatullah.com—Dua mahasiswa Amerika Serikat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan di Roma karena membunuh petugas kepolisian Mario Cerciello Rega.
Setelah melalui masa pertimbangan hampir 13 jam, juri menyatakan bersalah Finnegan Lee Elder, (21) dan Gabriel Natale-Hjorth (20) membunuh Cerciello Rega, yang baru saja kembali bertugas setelah cuti bulan madu ketika dia ditikam hingga tewas di sebuah jalan di pusat kota Roma pada bulan Juli 2019.
Pemakaman kenegaraan digelar untuk anggota kepolisian berusia 35 tahun itu, yang disebut jaksa Maria Sabina Calabretta tewas dalam serangan “tidak proporsional dan mematikan”.
Elder tampak terkejut ketika keputusan dibacakan pada Rabu malam (5/5/2021), lansir The Guardian.
Dalam penampakan singkat di pengadilan sebelumnya pada hari Rabu, Elder berkata kepada pengacaranya “Saya stress”, sebelum kemudian mencium kalung salib yang dikenakannya dan mengacungkannya ke langit. Kedua orangtuanya hadir dalam persidangan, begitu pula paman dari Natale-Hjorth.
Janda mendiang Cerciello Rega, Rosa Maria Esilio, menangis di pengadilan setelah keputusan dibacakan.
Natale-Hjorth sedang mengunjungi kerabatnya di Italia dekat Roma ketika bertemu dengan Elder, yang melancong ke berbagai negara Eropa, pada 26 Juli 2019.
Cerciello Rega ditikam 11 kali dan koleganya, Andrea Varriale, terluka ketika dua anggota kepolisian berpakaian bebas dan tidak membawa senjata itu menjumpai Elder dan Natale-Hjorth di distrik Prati di Roma untuk menyelidiki kasus penjambretan tas.
Elder, yang melancong ke Italia dengan membawa pisau tempur sepanjang 18cm di dalam tasnya, dan Natale-Hjorth mengatakan mereka mengira kedua polisi itu adalah penjahat yang berusaha mengganggu dan tindakan mereka merupakan upaya bela diri.
Sebelum kejadian itu, kedua mahasiswa tersebut mengontak seorang makelar untuk membeli kokain di Trastevere, sebuah kawasan yang dikenal dengan kehidupan malamnya.
Makelar itu kemudian mengantarkan mereka ke seorang pengedar narkoba, yang meminta bayaran €80 untuk “kokain” yang ternyata aspirin.
Sebagian balasan, mereka merampas tas milik makelar yang di dalamnya ada ponselnya, lalu kabur setelah sebelumnya meminta uang tebusan dan kokain jika tas ingin dikembalikan.
Makelar itu lantas membuat janji untuk bertemu kedua mahasiswa itu di distrik Prati. Dia juga melaporkan soal perampasan tasnya kepada pihak berwenang. Menanggapi laporan itu, kedua anggota kepolisian tersebut mendatangi lokasi.
Setelah melakukan serangan terhadap dua anggota kepolisian itu, pelaku kabur dan keesokan hari keberadaan mereka di sebuah hotel berhasil dilacak. Di penginapan itu polisi menemukan pisau yang dipergunakan untuk membunuh Cerciello Rega.
Elder mengaku berkali-kali menikam Cerciello Rega, tetapi berdalih bahwa dia dan Natale-Hjorth disergap oleh kedua korban, yang mereka sangka pengedar narkoba.
Jaksa Calabretta menuntut agar kedua mahasiswa itu dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
“Hukuman seumur hidup itu bukan sebagai “trofi untuk dipamerkan melainkan semata ganjaran hukuman … sebab dalam peristiwa tragis semacam ini, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah,” kata Calabretta dalam persidangan akhir April lalu.
Jaksa itu membantah pembelaan terdakwa yang berargumen bahwa kekhawatiran terus-menerus akan diserang yang dirasakan Elder – dampak sejarah masalah kejiwaan yang dialaminya – mengakibatkan dirinya membunuh Cerciello Rega setelah salah mengira dia dan Varriale adalah penjahat.
Dalam persidangan Varriale bersaksi bahwa dia dan Cerciello Rega mendekati kedua pemuda Amerika itu dari arah depan dan menunjukkan lencana kepolisian mereka, meskipun milik Cerciello Rega belum ditemukan usai kejadian.*