Hidayatullah.com—Seorang wanita Australia, yang dikabarkan diperkosa di bawah ancaman pisau di sebuah apartemen di New York yang terdaftar sebagai penginapan Airbnb, diberi uang penuntasan kasus $7 juta dengan syarat korban tidak bercerita tentang peristiwa yang dialaminya.
Wanita berusia 29 tahun itu diserang di sebuah apartemen dekat Times Square, salah satu kawasan paling populer di Manhattan, New York, pada dini hari awal tahun baru 2016.
Insiden itu, lapor Bloomberg Businessweek, langsung menggerakkan Airbnb untuk membuat “satgas” manajemen risiko demi menyelamatkan reputasinya.
Tim itu, menurut laporan Bloomberg yang dilansir The Guardian Rabu (16/6/2021), “melakukan aksi bersih-bersih hanya ketika bencana sudah terjadi”, dan dalam kasus di New York itu mereka memindahkan korban ke sebuah hotel, membiayai ibu korban datang dari Australia untuk mendampingi putrinya, kemudian memulangkan mereka ke Australia dengan jasa travel, kesehatan dan konseling ditanggung oleh Airbnb.
Di samping biaya-biaya tersebut, Bloomberg melaporkan bahwa berdasarkan hasil kesepakatan Airbnb dengan wanita itu dan pengacaranya di New York dan uang kompensasi yang diberikan, korban dilarang membicarakan pemerkosaan yang dialaminya, tidak menggugat secara hukum dan tidak menudingkan kesalahan atas peristiwa itu kepada Airbnb.
Dalam email yang dikirimkan kepada The Guardian, Airbnb membantah pihaknya berusaha membungkam korban.
“Dalam kasus-kasus serangan seksual, dalam kesepakatan yang sudah kami capai, para penyintas dapat berbicara secara bebas tentang apa yang mereka alami,” kata jubir Airbnb Benjamin Brait seperti dikutip The Guardian (16/6/2021).
Dia tidak mempertikaikan informasi rinci lain yang diungkap dalam laporan Bloomberg, tetapi menegaskan bahwa tim “kepercayaan dan keselamatan” Airbnb merupakan bagian dari layanan dukungan untuk pelanggan.
“Prioritas perusahaan dan para eksekutif kami adalah memberikan dukungan kepada penyintas dan melakukan hal yang benar untuk orang yang mengalami trauma,” ujarnya.
“Kami secara proaktif menghubungi NYPD [the New York police department] setelah kejadian itu dan menawarkan bantuan dalam investigasi mereka,” imbuhnya.
Jim Kirk, pengacara korban, menolak berkomentar, mengatakan kepada The Guardian dalam sebuah email bahwa “kami tidak ada urusannya dengan laporan Bloomberg tersebut”.
Dia menegaskan bahwa kliennya bersikukuh ingin tetap tidak diungkap identitasnya dan menolak semua permintaan wawancara dari media.
Korban dan beberapa temannya menyewa apartemen tersebut, satu dari empat apartemen di pusat Manhattan yang ditawarkan dalam website Airbnb, untuk merayakan malam pergantian tahun. Menurut catatan kepolisian yang dilihat Bloomberg, wanita itu kembali ke apartemen sendirian dan diserang oleh seorang pria bersenjata pisau yang bersembunyi di kamar mandi.
Tersangka pelaku pemerkosaan, yang sekarang sedang mendekam dalam tahanan menunggu jadwal persidangan, ditangkap oleh polisi satu jam kemudian. Dia dikabarkan balik kembali ke apartemen tersebut dengan membawa sebilah pisau, salah satu anting-anting korban dan kunci-kunci duplikat apartemen tersebut.
Tidak jelas bagaimana pelaku bisa mendapatkan duplikat kunci-kunci itu, tulis laporan Bloomberg, tetapi para wanita yang menyewa apartemen mengatakan bahwa mereka meminta kunci – tanpa ditanyai dan tanpa diminta menunjukkan identitas – dari sebuah toko serba ada setempat, ketika melakukan check-in menurut buku petunjuk pemilik properti yang disewakan lewat Airbnb tersebut.*