Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Ayaan dan Aafia, Dua Wanita Berbeda Jalan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Maret 2012 03:24
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Ayaan Hirsi Ali, perempuan Belanda berdarah Somalia, yang mendadak terkenal dan disanjung Barat  karena dianggap pengkritik Islam dan pandangannya yang liberal. Sementara di sisi lain Aafia Siddiqui, seorang perempuan asal Pakistan banyak dimusuhi karena lebih memilih jalan jihad dan mendukung perang  melawan Barat yang kafir.

Dua perempuan itu sama-sama dibesarkan berstatus Muslimah di negara Barat, namun menempuh jalan hidup yang berbeda. Wartawati Amerika Deborah Scroggins, baru-baru ini meneliti kehidupan dua perempuan ini yang menjadi lambang diskusi soal Islam dan Barat, demikian dikutip RNW, Jumat (09/03/2012) lalu.

Sama-sama mengaku Muslimah

Bagi keduanya, Islam menjadi titik awal kehidupan mereka. Ketika berusia 16 tahun, Ayaan Hirsi Ali mulai menghadiri pelajaran agama yang diberikan oleh Aziza, guru agamanya di Nairobi. Ia belajar bahwa orang Yahudi menguasai dunia. Ayaan yang ketika itu berkerudung,  merasa dirinya sebagai seorang muslimah tulen.

Ketika masih kecil, Aafia Siddiqui menemani ibunya ke pelbagai pertemuan perempuan. Ia membagikan brosur tentang Islam, suatu hal tidak lazim dilakukan seorang gadis di Pakistan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kedua perempuan tersebut meninggalkan tanah kelahiran untuk bertolak ke Barat. Sejak itu masing-masing memilih menempuh jalan hidup berbeda.

Hirsi Ali terkenal di Belanda karena mengkritik keras Islam. Ia memakai kisah hidupnya sendiri sebagai contoh. Sementara Siddiqui, dalam kuliah neurologi, berapi-api menyatakan dukungannya terhadap jihad. Hubungan dia dengan Al-Qaidah semakin kuat dan akhirnya divonis bersalah karena berupaya membunuh militer Amerika.

Untuk bukunya berjudul “Wanted Women”, Deborah Scroggins, selama enam tahun meneliti perbedaan dan persamaan antara kedua perempuan tersebut.

Pada awalnya kedua perempuan ini dipandang sebagai migran yang patut dicontoh. Ketika baru tinggal di Belanda, Hirsi Ali berusaha keras mirip orang Belanda. Pada waktu yang sama, dia merasa orang Belanda itu “bodoh”.

Juga Siddiqui berhasil menyesuaikan diri di Amerika Serikat. Dia sangat serius mengikuti kuliah. Tapi dia tetap menjaga jarak. Dia berpegang teguh pada apa yang ditulis dalam al-Quran: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah berhubungan dengan yahudi atau orang kristen.”

Di Amerika, Siddiqui mengunjungi berbagai pertemuan kelompok feminis. Namun ia tidak berubah dan menanggalkan kemuslimannya.  Apa yang didengarnya di sana, misalnya soal perkosaan ketika sedang berkencan atau fenomena lainnya mengkukuhkan pandangannya bahwa dunia Barat sudah rusak dan sangat berbahaya buat perempuan.

Berasal dari Somalia, Hirsi  mememiliki pengalaman pribadi yang membentuk pandangannya tentang perlakuan yang diterima wanita Muslim.  Awalnya, ia terbang ke Belanda untuk melarikan diri dari permenikahan paksa.  Ia kemudian penerjemah di tempat-tempat penampungan Belanda. Ia berpandangan sempit, menurutnya, adanya penyiksaan terhadap perempuan Afrika seolah menyamakan bahwa penindasan perempuan itu melekat dalam Islam. Semenjak itu ia memilih hidup bebas.

Meski keduanya sama-sama pekerja keras. Siddiqui lain dengan Hirsi. Selain sebagai ilmuwan, ia seorang ibu dan aktivis jihad. Hirsi Ali mengelilingi Belanda untuk menjadi penerjemah. Ketika ia menuntut ilmu di Universitas Leiden, ia juga harus mengurus saudara perempuannya yang sakit jiwa dan akhirnya meninggal.

Keduanya ingin menyelamatkan muslim dengan caranya sendiri. Satunya ingin menyelamatkan orang-orang yang beriman yang tertindas dan lainnya menyelamatkan orang-orang tak beriman yang tertindas. Yang satunya hanya dengan kata-kata sementara lainnya dengan kata-kata dan senjata.

Pilihan bebas

Memakai pakaian yang disuka menurut Siddiqui berarti: tidak malu dengan cadar. Di foto ketika ia lulus ia mengenakan baret di atas rambutnya yang terurai, namun ia juga mengenakan jubah hitam dengan cadar hitam. Sementara Hirsi Ali tampil dengan rambut pendek dan celana jins ketika i Belanda.

Keduanya juga tak bersedia menikah dengan laki-laki yang dijodohkan. Ayaan tadinya setuju ketika ia ingin dimenikahkan dengan salah satu anggota keluarganya. Namun ketika di Belanda, ia membatalkannya. “Saya ingin mengarungi hidup sendiri, dan menjadi orang yang mendiri.”

Siddiqui juga menolak calon suami yang ditawarkan keluarganya. Ia lebih baik memilih menikah dengan seorang pejuang jihad dibanding seorang dokter “lemah”yang disodorkan keluarganya. Ia baru menikah dengan ketika sang dokter menyatakan bersedia berjihad. Kendati akhirnya pernikahan itu kandas.

Dikejar

Siddiqui yang asal Pakistan itu bersembunyi dari CIA dan FBI. Sedang Hirsi Ali dipuji-puji Barat namun nyawanya diancam kalangan Muslim yang mengganggap dirinya pengkhianat. Atas dukungan Barat ia menjadi anggota parlemen dan mendapat perlindungan penuh dari otoritas Belanda.

Nasib keduanya sama-sama berakhir di Amerika. Hirsi Ali (42) menjadi terkenal ketika “memusuhi Islam” dan banjir order sebagai pembicara serta pemikirannya dihargai Barat. Sementara Aafia Siddqui (40) diinterogasi di Afghanistan tahun 2008 dan diserahkan tentara Pakistan ke Amerika, meski  pengacara Siddiqui berpendapat tidak ada bukti fisik ia menyentuh senjata yang dituduhkan.

Aafiah yang menyandang gelar PhD dari Institut Teknologi Massachusetts ini dipisahkan secara paksa dari anak-anaknya, dihukum Amerika dengan hukuman seumur hidup dan harus berada di penjara sampai 84 tahun lagi.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamMedia Islamold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Annan: Kondisi di Suriah Sulit Capai Kesepakatan
Tulisan selanjutnya Tidak Ada Istilah Nganggur dalam Berdakwah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?