Hidayatullah.com—Militer Nigeria mengumumkan kematian Abu Musab al-Barnawi, pemimpin kelompok cabang ISIS/IS di Afrika Barat.
“Dia sudah mati dan tetap mati,” kata Kepala Staf Pertahanan Jenderal Lucky Irabor.
Jenderal Irabor tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kematian Barnawi, yang pertama kali kabar kematiannya muncul pada bulan September.
Islamic State West Africa Province (ISWAP) belum memberikan komentar terhadap pengumuman pihak militer tersebut, lansir BBC Kamis (14/10/221).
ISWAP dipandang sebagai kelompok militan Muslim terkuat di Nigeria sejak kematian pemimpin Boko Haram, Abubakar Shekau.
Menyusul kematian Shekau, ribuan petempur Boko Haram dikabarkan menyerahkan diri ke militer Nigeria dan ISWAP.
Sedikit saja informasi yang diketahui perihal Barnawi, termasuk berapa usia ya dan bagaimana sosoknya.
Dilahirkan dengan nama Habib Yusuf, Abu Musab al-Barnawi diyakini merupakan putra tertua dari pendiri Boko Haram, Mohammed Yusuf.
Dia dipandang sebagai sosok yang relatif moderat, mengecam kebijakan Boko Haram yang dinilainya ekstrem seperti penggunaan anak sebagai pelaku bom bunuh diri dan serampangan menyerang sesama Muslim.
Setelah kematian ayahnya di dalam tahanan polisi pada 2009, Abu Bakar Shekau ditunjuk sebagai pemimpin baru Boko Haram.
Barnawi pernah menjadi jubir untuk Boko Haram, tetapi kerap berselisih pendapat dengan Shekau dan pemimpin senior lainnya. Pada tahun 2013 dia membelot untuk bergabung dengan Ansaru – kelompok pecahan Boko Haram yang berafiliasi dengan al-Qaeda.
Meskipun ada perbedaan di antara mereka, kedua kelompok tersebut adakalanya bekerja sama.
Untuk mengangkat profil Boko Haram ke dunia internasional, Shekau bersekutu dengan kelompok ISIS alias IS pada tahun 2015. Tahun berikutnya IS menunjuk Barnawi sebagai wali (pemimpin) baru Boko Haram, sehingga menimbulkan pertikaian besar di dalam kelompok tersebut.
Para analis meyakini pergantian kepemimpinan itu dipicu oleh perbedaan ideologi antara Shekau dengan kepemimpinan IS pusat.
Pada Agustus 2016, koran IS al-Nabaa menerbitkan wawancara dengan Barnawi. Dalam artikel itu, Barnawi menyebut pertempuran kelompok itu dengan negara-negara di Afrika Barat sebagai perlawanan terhadap kaum “murtad” dan “tentara salib”.
Pergantian kepemimpinan Boko Haram oleh IS tidak disukai oleh sebagian pihak, termasuk Shekau, yang menuding Barnawa melakukan kudeta.
Akibat pertikaian internal itu, mereka yang loyal kepada IS mendukung pendirian ISWAP yang dipimpin oleh Barnawi, sedangkan Shekau bertahan sebagai pemimpin Boko Haram.
ISWAP mengumumkan bahwa Shekau tewas pada bulan Mei setelah melarikan diri dari pertempuran melawan petempur-petempur ISWAP – memilih untuk bunuh diri dengan meledakkan rompi bom yang dikenakannya daripada menyerah. ISWAP mengatakan bahwa pertempuran itu, yang terjadi di hutan Sambisa Nigeria, diperintahkan langsung oleh pemimpin IS pusat Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi.
Menurut media Nigeria HumAngle, Barnawi membagikan kabar kematian Shekau itu dalam sebuah rekaman suara pada bulan Juni, mengatakan bahwa Shekau telah melakukan aksi “terorisme yang tidak terbayangkan”.
“Ketika tiba waktunya, Allah mengirim para prajurit kami yang gagah berani setelah menerima perintah dari Khalifah,” kata Barnawi, seperti dikabarkan media Nigeria tersebut.
Beberapa hari setelah itu pada bulan yang sama, terduga militan Boko Haram me.gkonfirmasi kematian Shekau dalam rekaman video yang dipublikasikan oleh media-media Nigeria dan para analis keamanan.
IS juga mengkonfirmasi kematian Shekau dan mengatakan sejak itu “ribuan” petempur Boko Haram bergabung dengannya.
Di bawah kepemimpinan Barnawi, ISWAP menguasai sejumlah wilayah di bagian utara Nigeria, dan Chad Basin. Kelompok itu juga aktif di beberapa negara tetangga Nigeria, seperti Burkina Faso, Kamerun, Chad, Niger dan Mali.
ISWAP juga menguasai beberapa pangkalan militer, merebut senjata dan amunisi dari pasukan militer regional. Mereka memungut pajak dari warga di wilayah yang dikuasainya, serta terlibat dalam sejumlah aktivitas bisnis seperti penangkapan ikan.*