Hidayatullah.com–Aljazair hari Kamis (6/1/2022) kembali menempatkan duta besarnya di Paris, tiga bulan setelah ditarik menyusul ketegangan berkaitan dengan era penjajahan Prancis di negara Afrika Utara tersebut.
Langkah itu diumumkan oleh kantor kepresidenan Aljazair, lansir Associated Press.
Pada bulan Oktober, Presiden Abdelmadjid Tebboune memanggil pulang Dubes Antar Daoud, merujuk pada “komentar tidak bertanggung jawab” yang dikemukakan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang sejarah pra-kolonial dan sistem pemerintahan pasca-kolonial Aljazair
Aljazair juga menolak memberikan izin pesawat-pesawat militer Prancis terbang di wilayah udaranya, dan menuduh Paris melakukan “genosida” selama era kolonial.
Bulan lalu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian berusaha meredakan ketegangan dengan mengunjungi Aljir. Kedua negara sepakat untuk melanjutkan kerja sama untuk mewujudkan perdamaian di Libya dan isu-isu internasional lainnya.
Kala itu, Le Drian mengingatkan kembali perihal sejarah rumit kedua negara dan dia ingin “menghilangkan kesalahpahaman”.
Aljazair memperoleh kemerdekaan setelah perang enam tahun (1954-1962), setelah lebih dari satu abad di dijajah Prancis.
Kedua negara beberapa tahun belakangan menutup pintu kerja sama ekonomi dan budaya. Hubungan mereka semakin panas setelah Prancis tidak mau mengeluarkan visa bagi orang-orang yang berasal dari Afrika Utara karena pemerintah-pemerintah di sana menolak membawa pulang migran yang ditolak suakanya di Prancis.*