Hidayatullah.com–Parlemen Catalonia secara resmi mengampuni ratusan wanita yang dieksekusi karena tuduhan praktik “sihir” antara abad ke-15 dan ke-18.
Anggota-anggota perlemen wilayah Spanyol itu hari Rabu (26/1/2022) menyetujui resolusi yang merehabilitasi kenangan terhadap lebih dari 700 wanita yang “diadili, disiksa, dan dieksekusi” dalam kasus sihir.
Anggota parlemen sayap kiri dan pro-kemerdekaan mengatakan para wanita itu adalah “korban penganiayaan misoginis” dan menyeru agar beberapa jalan Catalonia diberi nama sesuai nama “penyihir” yang teraniaya itu, lansir AFP.
Sejarawan percaya bahwa sebagian besar eksekusi “tukang sihir” di Spanyol terjadi di wilayah timur laut. Catalonia merupakan salah satu daerah pertama di Eropa di mana undang-undang anti-sihir diberlakukan pada tahun 1471.
Parlemen Catalonia memanfaatkan penelitian oleh jurnal ilmiah lokal Sapiens dan sejarawan Barcelona Pau Castell untuk menyerukan resolusi tersebut.
Penyihir sering disalahkan atas kematian mendadak anak-anak atau bencana alam dan panen yang buruk, kata Castell.
Diperkirakan 50.000 orang dihukum mati karena “sihir di seluruh Eropa” antara tahun 1580 dan 1630, sekitar 80% di antaranya adalah wanita.
Lebih dari 100 sejarawan Eropa baru-baru ini menandatangani manifesto berjudul “Mereka bukan penyihir, mereka perempuan”.
Sebagian besar dari 114 anggota parlemen memberikan suara mendukung grasi tersebut, sementara 14 menentang dan enam abstain dari pemungutan suara.
Wilayah Navarre di Spanyol telah menangani kasus historis penganiayaan historis para “penyihir”, demikian pula Norwegia, Swiss, dan Skotlandia.*