Hidayatullah.com—Sehari setelah Rusia melancarkan operasi militer atas Ukraina, presiden negara itu mengkonfirmasi 137 orang tewas yang melibatkan tentara dan warga sipil, sementara 160 lainnya dilaporkan terluka.
Untuk hari kedua berturut-turut, pasukan Rusia terus menyerang beberapa posisi penting di beberapa kota di Ukraina, kutip AFP.
Penduduk di ibu kota Kiev dan kota-kota lain berbondong-bondong menyelamatkan diri dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan 100.000 orang telah melakukannya sejauh ini. Laporan terbaru menyebutkan serangkaian ledakan di kota pelabuhan Mariupol yang merupakan rumah bagi hampir setengah juta orang.
Sejak mengobarkan perang, Rusia telah berhasil menguasai kompleks Chernobyl yang menampung situs yang pernah memicu bencana nuklir terburuk di dunia sebelumnya. Kompleks tersebut hingga hari ini masih memancarkan efek radioaktif yang berbahaya.
Sejak Kamis, pasukan Rusia telah maju dan memasuki wilayah Ukraina dengan pasukannya menembak dengan ledakan yang dilaporkan terdengar di seluruh Ukraina, termasuk di Kiev. Pertempuran terus meletus termasuk di lapangan terbang dekat ibu kota yang dikepung oleh pasukan Rusia.
Namun, pasukan militer Ukraina mengklaim telah direbut kembali.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersumpah untuk terus membela negaranya dari agresi Rusia lebih lanjut.
Bahkan, katanya, itu adalah tanggung jawabnya untuk menjaga Ukraina di sisi barat karena sekarang adalah bekas negara Soviet. Analis melihat perang di Ukraina oleh Rusia meletus sebagai akibat dari intervensi AS yang memberi Ukraina ruang untuk mengganggu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), aliansi yang didirikan oleh AS pada tahun 1949.
Namun, niat Ukraina tidak disukai oleh Rusia karena Ukraina adalah anggota bekas Uni Soviet, Uni Soviet Serangan itu diduga bertujuan untuk mendidik Ukraina dan ingin tetangga Rusia itu berubah pikiran untuk tidak bergabung dengan NATO.*