Hidayatullah.com–Pengadilan di El Salvador memerintahkan penangkapan bekas presiden Alfredo Cristiani dalam kaitannya dengan kasus pembunuhan enam pendeta Yesuit dan dua lainnya oleh tentara pada tahun 1989.
Jaksa penuntut menuding Cristiani mengetahui rencana militer untuk melenyapkan para pendeta itu dan tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Pada 25 Februari gugatan dilayangkan terhadap Cristiani, yang menjabat presiden dari 1989 hingga 1994, dan sekelompok tentara karena diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut. Cristiani dan mantan anggota parlemen bernama Rodolfo Parker telah dipanggil ke pengadilan pada hari Selasa, tetapi mereka tidak muncul, lapor Associated Press Sabtu (12/3/2022).
“Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain mengeluarkan keputusan perintah penangkapan terhadap orang-orang tersebut karena mereka tidak hadir di pengadilan dan tidak pengirim kuasa hukumnya,” kata pengadilan.
Cristiani hengkang dari El Salvador pada 2021 setelah muncul di hadapan panel khusus di Kongres yang menyelidiki kelebihan pembayaran kepada mantan pejabat pemerintah.
Ketika kejaksaan membuka kembali kasus pembunuhan pendeta itu, putrinya yang bernama Claudia Cristiani mempublikasikan sejumlah foto ayahnya dan mengatakan mengatakan bahwa mereka sedang berada di kampung halaman kakeknya, artinya Italia, tetapi tidak diketahui apakah dia masih di sana.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh putrinya, mantan pemimpin itu membantah tuduhan tersebut.
“Sesungguhnya saya tidak pernah mengetahui ada rencam bahwa mereka akan melakukan pembunuhan tersebut,” kata Cristiani. “Mereka tidak pernah memberitahu saya atau meminta otorisasi dari saya sebab mereka mengetahui saya tidak akan pernah mengizinkan Romo [Ignacio] Ellacuría atau saudara-saudaranya dilukai.”
Kantor Kejaksaan Agung El Salvador menuding Cristiani, Parker dan sejumlah bekas petinggi militer berada di belakang pembunuhan tersebut. Amnesti umum yang dikeluarkan pada tahun 1993 semasa pemerintahan Cristiani telah menghalangi penyelidikan terhadap kasus itu sampai akhirnya keputusan tersebut dicabut ada 2016.
Pada 16 November 1989 sebuah unit pasukan elit komando membunuh enam pendeta – lima warga Spanyol dan satu warga El Salvador – serta seorang pembantu rumah tangga dan seorang putrinya yang bekerja di kediaman para pendeta itu. Para pelaku berusaha sedemikian rupa untuk menampakkan pembunuhan itu dilakukan oleh gerilyawan sayap kiri.
Sembilan personel militer awalnya didudukkan di kursi terdakwa, tetapi pengadilan membebaskan tujuh dari mereka. Dua anggota militer menjalani hukuman pendek tetapi dibebaskan pada tahun 1993 dengan amnesti.
Setelah Mahkamah Agung menilai amnesti itu tidak sesuai dengan konstitusi, hakim memerintahkan agar salah satu dari terpidana, yaitu Kolonel Guillermo Benavides, kembali masuk sel sampai sekarang.
Sementara kasus itu terhenti di El Salvador, pengadilan di Spanyol pada tahun 2020 menjatuhkan hukuman kepada bekas prajurit El Salvador bernama Kolonel Inocente Orlando Montano berupa penjara 133 tahun dalam kasus pembunuhan tersebut.*