Hidayatullah.com–Amerika Serikat Inggris dan Australia hari Selasa (5/4/2022) mengatakan mereka akan berkolaborasi dalam pembuatan senjata-senjata hipersonik dan “kemampuan peperangan elektronik”, sebagai bagian dari aliansi baru AUKUS yang ditujukan untuk menghadapi China.
Ketiga negara mengatakan inisiatif bersama itu akan memperkuat upaya yang sudah ada guna memperdalam kerja sama di berbagai bidang yang telah mereka sepakati ketika membentuk pakta pertahanan baru tersebut September tahun lalu.
“Kami… hari ini berkomitmen untuk memulai kerja sama trilateral baru dalam hipersonik dan kontra-hipersonik, dan kemampuan peperangan elektronik, serta memperluas pertukaran informasi dan memperdalam kerja sama dalam inovasi pertahanan,” kata mereka dalam pernyataan bersama, seperti dilansir AFP.
“Inisiatif ini akan menambah upaya kami yang ada untuk memperdalam kerja sama dalam kemampuan siber, kecerdasan buatan, teknologi kuantum, dan menambah kapabilitas bawah laut.
Russia, China, Amerika Serikat dan Korea Utara semua sudah melakukan uji coba rudal hipersonik. Pengumuman hari Selasa itu hanya beberapa pekan setelah Moskow mengatakan telah meluncurkan rudal hipersonik untuk pertama kali dalam perang di Ukraina.
Rudal hipersonik, seperti rudal balistik tradisional yang dapat meluncurkan senjata nuklir, memiliki kemampuan terbang lebih dari lima kali kecepatan suara.
Sementara rudal balistik terbang tinggi ke angkasa dalam bentuk busur untuk mencapai targetnya, senjata hipersonik terbang pada lintasan rendah di atmosfer, sehingga berpotensi mencapai target lebih cepat.
Yang terpenting, rudal hipersonik dapat bermanuver – seperti rudal jelajah yang jauh lebih lambat, seringkali berkecepatan subsonik – sehingga membuatnya lebih sulit untuk dilacak dan ditangkal.
Rusia dipandang sebagai negara paling maju di bidang ini, sementara China juga gencar mengembangkan teknologi itu, menurut US Congressional Research Service (CRS).
Prancis, Jerman, Australia, India, dan Jepang sedang menggarap senjata hipersonik, sementara Iran, Israel, dan Korea Selatan telah melakukan penelitian dasar tentang teknologi tersebut, kata CRS sebelumnya.
Amerika Serikat, Inggris dan Australia membentuk pakta pertahanan AUKUSpada bulan September 2021, berbarengan dengan keputusan Canberra untuk membatalkan kesepakatan pembelian kapal selam bernilai miliaran dolar dengan Prancis.*