Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kandungan Pestisida Buah dan Sayuran di Prancis Semakin Banyak

Ama Farah
Terakhir diupdate: 27 Mei 2022 08:35 8:35 am
Ama Farah
Dipublikasikan 27 Mei 2022 08:34
Bagikan
[Ilustrasi] Makanan penuh serat.
Bagikan

Hidayatullah.com– Kadar pestisida yang terdapat pada buah dan sayuran di Prancis bertambah alias semakin banyak kurun sepuluh tahun terakhir. Demikian menurut studi yang dilakukan sebuah lembaga swadaya masyarakat. Hasil penelitian itu menunjukkan tren yang terus meningkat pada “kontaminasi” buah-buahan Eropa, meskipun Uni Eropa bertekad mengurangi penggunaan pestisida paling berbahaya pada tanaman pangan.

“Konsumen yang memakan buah atau sayuran yang diproduksi di Uni Eropa semakin terpapar koktail pestisida-pestisida terburuk,” tulis Pesticide Action Network (PAN) Europe dalam laporannya yang dirilis hari Selasa (24/5/2022), ‘Forbidden Fruit’.

“Semakin banyak produk yang diuji setiap tahun ditemukan terkontaminasi [pestisida],” kata PAN, seperti dilansir RFI Kamis (26/5/2022).

Sejak 2011, negara-negara anggota Uni Eropa seharusnya mendorong produsen untuk membatasi penggunaan pestisida, dan pada 2020 UE mengatakan bahwa mereka akan mengurangi penggunaan zat pestisida paling berbahaya hingga 50 persen pada tahun 2030.

Namun, PAN mengatakan bahwa terlepas dari arahan dan undang-undang yang dibuat UE dan disahkan di negara-negara anggota, konsumen justru menelan semakin banyak – bukan lebih sedikit – pestisida.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Paradoksnya, konsumen semakin tidak terlindungi, pada saat UE berkomitmen untuk memberikan sistem produksi dan konsumsi yang lebih aman untuk kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan,” tulis para pembuat laporan tersebut.

Laporan Komisi Eropa menyebutkan bahwa penggunaan pestisida turun 8 persen pada 2018 dan 5 persen pada 2019, dibandingkan dengan baseline antara 2015 dan 2017.

Data didasarkan pada “jumlah zat aktif kimia yang dipasok ke pasar”, yang menurut PAN tidak memperhitungkan apa yang sebenarnya dikonsumsi masyarakat atau terkandung dalam buah dan sayuran.

PAN melihat 97.170 sampel buah-buahan dan 113.431 sayuran yang diproduksi di Eropa dalam kurun delapan tahun dari 2011 hingga 2019, dan menemukan “tren peningkatan berkelanjutan” residu pestisida dari 14 persen pada 2011 menjadi 21 persen pada 2019.

Prancis termasuk dalam tiga besar negara yang paling banyak menggunakan pestisida, menurut PAN, dengan 22 persen produknya terkontaminasi. Hanya Belgia dan Irlandia yang memiliki kadar lebih banyak, dengan masing-masing 34 persen dan 26 persen.

Studi tersebut menunjukkan ”penggunaan pestisida paling berbahaya di Eropa sebenarnya meningkat, bukan menurun”, tulis laporan itu. “Hukum diabaikan dan konsumen dihadapkan pada gelombang paparan bahan kimia yang meningkat.”

Buah-buahan lebih rentan terhadap serangga dan penyakit, sehingga memiliki lebih banyak jejak pestisida daripada sayuran.

Buah yang mengalami “peningkatan residu pestisida paling spektakuler” adalah kiwi, menurut Salomé Roynel, kepala bidang kampanye PAN.

“Kiwi hampir bebas dari zat-zat ini pada tahun 2011, dan hari ini 30 persen terkontaminasi,” kata Roynel dalam konferensi pers hari Selasa.

Buah di Eropa yang paling banyak tercemar pestisida yaitu blackberry (51%), buah persik (45%), stroberi (38%), ceri (35%), aprikot (35%). Sementara dari golongan sayuran yaitu seledri (50%), umbi seledri (45%), kale (31%), endive  dari jenis sawi-sawian (28%), Brussels sprouts (26%).

Kelompok itu mendesak Eropa segera menghentikan penggunaan 12 pestisida paling beracun, termasuk Tebuconazole, fungisida yang cenderung membahayakan perkembangan janin, dan terkait dengan kasus-kasus cacat lahir dan keguguran. Bahan kimia itu antara lain ditemukan pada buah ceri dari Spanyol, Yunani dan Prancis pada 2019.

Zat-zat pestisida lain dikaitkan dengan risiko terkena kanker, masalah jantung dan penyakit serius lainnya, baik pada konsumen maupun petani yang bekerja menggunakan pestisida itu.

Prancis sendiri justru memperbolehkan penggunaan zat berbahaya demi mengurangi kerugian ekonomi akibat gagal panen.

Contohnya pada tahun 2020, Prancis mengizinkan petani bit untuk menggunakan neonicotinoid, pestisida yang sudah dinyatakan terlarang pada tahun 2018. Alasannya, untuk menghindari kehilangan separuh hasil panen mereka disebabkan virus yang ditularkan oleh kutu daun. Neonicotinoid diketahui memiliki efek berbahaya pada hewan penyerbuk seperti lebah.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:buahEropapestisidaPrancisresidusayuranUni Eropa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Di Afghanistan 1,1 Juta Anak Terancam Severe Wasting Malnutrisi Paling Parah
Tulisan selanjutnya Aktor Hollywood Kevin Spacey Didakwa 4 Serangan Seksual Terhadap Pria di Inggris

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?