Hidayatullah.com– Sebuah hasil studi Universitas Stanford, Amerika Serikat, mendapati orang Malaysia termasuk peringkat ketiga paling malas di dunia. Namun, menurut Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin laporan itu tidak sesuai kenyataan di lapangan.
Menteri Kesehatan itu mengatakan bahwa penelitian tersebut, yang melihat tingkat obesitas populasi dan jumlah langkah per hari warga, tidak mempertimbangkan fakta bahwa kota-kota Malaysia tidak dibangun untuk kesehatan.
“Laporan itu tidak mencerminkan fakta bahwa Malaysia dan kota-kota Malaysia bukanlah kota yang sangat bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kami tidak memiliki perencanaan kota dan lingkungan binaan yang mempromosikan gaya hidup sehat,” kata Khairy Jamaluddin, yang pernah menjabat sebagai menteri pemuda dan olahraga.
“Kami tidak memiliki jaringan transportasi yang mempromosikan gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Transportasi dirancang agar Anda tidak banyak bergerak dan bergantung sebanyak mungkin pada mobil Anda,” kata Khairy dalam acara dialog kebijakan Health Policy Summit 2022 di gedung World Trade Centre Kuala Lumpur, Selasa (16/8/2022).
“Makanan mahal, makanan sehat itu mahal. Orang tua ingin memberi anak-anak mereka makanan bergizi tetapi sebaliknya lebih mudah, lebih murah dan lebih nyaman untuk memberi anak-anak mereka processed food, makanan cepat saji,” imbuh Khairy, seperti dilansir Malay Mail.
“Mereka ingin berolahraga tetapi sulit melakukannya karena sebagian dari mereka bahkan harus melakukan dua atau tiga pekerjaan,” katanya.
Lebih lanjut fia berkata, “Sangat mudah bagi Kementerian Kesehatan untuk menguliahi masyarakat tentang cara hidup yang lebih baik, tentang cara makan yang lebih sehat, tanpa memahami hambatan dan keterbatasan yang dimiliki orang untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat.”
Menurutnya, seruan hidup sehat memang dapat disampaikan lewat berbagai macam kampanye. Namun, yang lebih diperlukan adalah kerja sama dari semua kementerian agar memasukkan aspek kesehatan dalam pembuatan kebijakan.
Ketika menyusun anggaran, “kita harus mempertimbangkan aspek kesehatan, seperti halnya kita mempertimbangkan kesetaraan gender ketika membuat kebijakan baru.”
“Sama seperti bagaimana setiap kementerian sekarang memperhitungkan perubahan iklim (dalam kebijakan mereka), kita juga harus bertanya, ‘Apa yang kita lakukan untuk kesehatan?’ sehingga kita dapat mengatakan, ‘Ini adalah kontribusi kementerian saya dalam hal kesehatan,” papar anggota parlemen dari dapil Rembau itu.
Dialog kebijakan tersebut juga dihadiri oleh mantan menteri kesehatan Malaysia Tan Sri Dr S. Subramaniam, Direktur Eksekutif Sunway Center for Planetary Health Tan Sri Prof Dr Jemilah Mahmood dan ketua Axiata Group Tan Sri Shahril Ridza Ridzuan, yang bergabung secara virtual.*