Hidayatullah.com—Pemerintah Australia menyatakan negaranya mengalami “krisis sipil” karena meningkatnya jumlah orang yang kesepian dan menurunnya mereka yang mau jadi relawan. Pemerintah mengaku sedang melakukan penyelidikan, termasuk mendengarkan masukan publik di berbagai kota selama Agustus dan September.
“Australia saat ini menghadapi krisis sipil,” ujar Andrew Leigh, Wakil Menteri Urusan Kompetisi, Badan Amal dan Perbendaharaan Negara dikutip ABC. “Kita telah melihat penurunan jumlah orang yang menjadi sukarelawan dan jumlah orang yang menyumbang untuk badan amal,” jelas Leigh.
“Dibandingkan dengan pertengahan 1980-an, orang Australia kini kurang memiliki teman dekat dan kurang mengenal tetangganya. Kita jadi lebih tidak terkoneksi satu sama lain,” katanya.
Dengar pendapat yang akan dilakukan oleh sejumlah pihak berfokus pada mencari solusi untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, meningkatkan kembali jumlah relawan dan sumbangan untuk badan amal. Liputan ABC baru-baru ini menyoroti dampak signifikan dari penurunan jumlah relawan di masyarakat regional.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah birokrasi seringkali menjadikan kerja-kerja sukarela lebih sulit. Tekanan finansial juga menjadi alasan yang membuat orang-orang kurang mau menyumbangkan waktu atau tenaganya secara sukarela.
“Komisi Produktivitas menyebutkan dalam satu dekade hingga 2020, jumlah warga Australia yang menjadi petugas pemadam kebakaran sukarela menurun. Jadi ketika kebakaran hutan musim panas melanda, kita tidak akan siap,” katanya.
Andrew menambahkan berbagai model kerja sukarela sebenarnya memiliki banyak manfaat, seperti program Penghijauan Australia, yang memungkinkan peserta mengatasi deforestasi sekaligus memenuhi gaya hidup.
Penyelidikan pemerintah ke sektor badan amal dan relawan untuk mendengarkan pendapat akan digelar akhir tahun ini di kawasan regional. Kegiatan Sammy the Dragon dalam Festival Mutiara di Broome, Australia Barat, adalah salah satu penerima manfaatnya.
Dibutuhkan minimal 14 relawan untuk mengangkat naga raksasa, yang menurut koordinatornya, Jack Castellarin, menjadi tantangan tersendiri. “Dari tahun ke tahun semakin sulit menemukan orang yang mau datang membantu,” kata Castellarin.
“Kami tetap bertahan, namun sepertinya orang semakin sibuk. Saat kami tidak bisa lagi menampilkan Sammy, tentunya itu akan menjadi peringatan bagi kami,” katanya.
Sementara itu, beberapa di sektor badan amal sudah melakukan ‘rebranding’ untuk menarik generasi muda ikut dalam kegiatan sukarela. Data Biro Statistik Australia menunjukkan penurunan terbesar dalam usia relawan terjadi pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun.
Mike Drysdale bekerja untuk sebuah firma pemasaran di Perth dan sudah melakukan kampanye kerja sukarela untuk pemerintah setempat. “Generasi lebih tua memandang menjadi relawan sebagai sesuatu yang akan dilakukan secara rutin dalam hidup kita,” katanya.
“Sementara generasi muda lebih tertarik pada aktivitas berbasis dampak, mereka dapat berkumpul dalam waktu singkat, melakukan berbagai upaya, dan mungkin kembali lagi nanti,” tambahnya.
Pola pikir seperti itu tidak cocok dengan struktur yang lebih formal dari klub sukarela yang sudah mapan seperti Rotary dan Lions. Tapi Drysdale percaya generasi muda dimotivasi oleh rasa altruisme yang sama seperti generasi tua. “Generasi sekarang ini menghadapi situasi lapangan yang sama sekali berbeda. Mereka ingin membuat dampak, tanpa harus menguras energi mereka dan bahkan berpotensi tidak membuat perubahan nyata,” katanya.*