Hidayatullah.com– Australia menaikkan batas atas migrasi permanen untuk pertama kalinya kutun satu dekade guna membantu mengisi kekurangan tenaga kerja.
Tahun fiskal kali ini sebanyak 195.000 migran akan diberi izin menetap fan bekerja, naik sebanyak 35.000 dari periode sebelumnya, lansir BBC Jumat (2/9/2022).
Kebijakan perbatasan yang ketat selama pandemi Covid-19 membuat banyak sektor kekurangan karyawan.
Para pekerja dari berbagai negara seperti China, India dan Inggris – tiga negara sumber pekerja migran terbanyak Australia – diperlukan untuk mengisi pekerjaan yang masih lowong, kata pemerintah.
Saat ini ada lebih dari 480.000 lowongan pekerjaan di seluruh penjuru Australia. Namun, dengan tingkat pengangguran saat ini yang terendah kurun 50 tahun, para pemilik usaha sulit mendapatkan karyawan yang diperlukan.
Industri ramah-tamah, sektor kesehatan, pertanian dan industri yang membutuhkan tenaga terampil paling parah terdampak.
Kekurangan karyawan telah menyebabkan bandara-bandara di Australia kacau, buah membusuk di pohon karena tidak segera dipanen, rumah sakit kelabakan menangani pasien, menurut paparan dalam konferensi ketenagakerjaan di Canberra pekan ini.
“Fokus kita selalu mengutamakan tenga kerja orang Australia… tetapi dampak Covid begitu parah sehingga meskipun kita sudah mengupayakan segala usaha kita tetap kekurangan ribuan tenaga kerja, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Me teri Dalam Negeri Clare O’Neil.
Migrasi permanen meningkat menjadi sekitar 190.000 per tahun pada pertengahan 2010-an, sebelum jatuh pada 2017 karena imigrasi menjadi topik panas perdebatan politik.
Pemilik bisnis dan serikat pekerja meminta pemerintah membuka kran migran lebih besar.
Peningkatan jumlah tenaga kerja migran tersebut termasuk tambahan 4.700 pekerjaan untuk petugas kesehatan dan 9.000 lainnya untuk orang yang pindah ke wilayah regional.
Pemerintah Australia berjanji menyisihkan anggaran tambahan A$36 juta ($24,4 juta) untuk mempekerjakan staf tambahan guna menuntaskan aplikasi visa yang menumpuk.
Meskipun migrasi berkurang selama pandemi, lebih dari satu juta orang telah pindah ke Australia sejak 2016.
Dan untuk pertama kalinya sensus Australia mengungkapkan lebih dari separuh penduduknya lahir di luar negeri atau memiliki orang tua yang lahir di luar negeri.*