Hidayatullah.com–Asisten Menteri Keamanan Iran, Hujjatul Islam Khaza’i menjelaskan posisi negaranya yang mendukung rezim Presiden Suriah Bashar Assad dalam menghadapi pemberontakan rakyat Suriah. Menurutnya salah satu alasan kenapa Iran mendukun rezim Suriah adalah karena rezim Suriah mendukung Iran selama Perang Iraq-Iran. Demikian dilansir Syarqilawsat, Selasa (28/8).
Dia menganggap Iran telah memenangkan konfrontasi dengan Amerika Serikat selama tiga puluh tahun terakhir, yaitu sejak pecahnya Revolusi Iran tahun 1979. Dia juga mengatakan bahwa Iran tidak akan mengizinkan Amerika untuk menduduki Iraq dan Timur Tengah yang dianggapnya sebagai pusat kelompok Syiah seluruh dunia.
Menurutnya, Amerika Serikat berencana untuk mengontrol Timur Tengah yang berisi 70% dari sumber energi di dunia dan yang dianggapnya sebagai basis kelompok Syiah. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa datangnya Amerika ke Iraq dengan alasan untuk menegakkan demokrasi hanyalah alasan untuk mengambil kontrol atas Iran dan Suriah.
Khaza’i juga mengklaim bahwa Iran telah berhasil menggagalkan strategi Amerika Serikat di Iraq. Dia menambahkan, “Iran tidak mengizinkan Amerika untuk menguasai Iraq dan Timur Tengah dan memanfaatkan uang yang diambilnya di Iraq.”
Dia juga menyatakan bahwa diselenggarakannya KTT negara-negara Non-Blok di Teheran adalah sebagai bukti bahwa “musuh” telah gagal untuk mengisolasi Iran.
Seperti yang dilansir oleh kantor berita IRNA soal dukungan Iran kepada Suriah, Khaza’i mengatakan, “Negara-negara Arab banyak yang berusaha memutuskan hubungan Iran dengan Suriah, namun tidak berhasil. Salah satu alasan dukungan Iran terhadap Suriah karena Suriah mendukung Iran selama perang tahun 1980-1988 (Perang Iraq-Iran).”
Syiah Iraq
Namun, klaim Khaza’i terkait Amerika Serikat dan Syiah di kawasan Timur Tengah itu patut dipertanyakan. Mengingat pasca Saddam Hussein –seorang pemeluk Islam (Sunni)– digulingkan, Amerika Serikat justru menaikkan tokoh-tokoh Syiah Iraq ke tampuk kekuasaan.
Perdana Menteri Nuri Al Maliki langsung bergerak leluasa memburu tokoh-tokoh politik Muslim Iraq, hanya beberapa jam setelah Washington menarik sebagian besar pasukannya dari Iraq pada akhir 2011. Termasuk memburu Wakil Presiden Tariq Al Hashimi, yang ditetapkan secara sepihak tanpa bukti sebagai pendukung aksi terorisme di Iraq.
Muqtada Al Sadr, salah satu tokoh Syiah Iraq, bahkan mendapat kehormatan untuk menggantung Saddam Hussein, yang berhasil ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat.
Izzat Ibrahim Al Douri bahkan mengeluarkan peringatan akan bahaya Syiah di Iraq yang dikatakannya ingin menguasai negara itu. Baca berita sebelumnya: Bahaya Syiah Iraq Sudah di Depan Pintu!
Dan kini, pemerintah Syiah Iraq, yang dinaikkan oleh Amerika Serikat justru berkawan sangat baik dengan pemerintah Syiah Iran.*