Hidayatullah.com– Operasi penyelamatan masih berlangsung di Marche, bagian tengah Italia, setelah cuaca ekstrem yang luar biasa memicu banjir besar di sejumlah kota kecil di perbukitan Jumat dini hari (16/9/2022) sehingga menewaskan 10 orang dan beberapa lainnya masih dinyatakan hilang.
Puluhan orang yang selamat bergegas ke atap rumah atau pohon untuk menunggu penyelamatan, lapor Associated Press.
“Itu bukan bom air, itu tsunami,” kata walikota Barbara, Riccardo Pasqualini, kepada radio pemerintah Italia, menggambarkan hujan deras tiba-tiba pada Kamis malam mengguyur Marche, wilayah dekat Laut Adriatik.
Sementara petugas pemadam kebakaran mengatakan tujuh kematian terkonfirmasi dan tiga orang hilang, stasiun radio Rai menyebutkan jumlah korban tewas terkonfirmasi 10 orang. Dua anak – satunya adalah bocah yang terlepas dari gendongan ibunya karena derasnya arus banjir di Barbara – termasuk di antara empat orang yang masih dinyatakan hilang sampai Jumat menjelang siang waktu setempat.
Seorang ibu dan putrinya, berusia sekitar 8 tahun, yang berusaha menyelamatkan diri dari air banjir hilang di Barbara, kata walikota kepada kantor berita Italia Ansa.
Sebagian besar dari 300 petugas pemadam kebakaran yang dikerahkan mengarungi air setinggi pinggang di jalan-jalan yang banjir, sementara yang lain mengoperasikan perahu-perahu karet untuk mengevakuasi orang-orang yang selamat di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Petugas damkar lewat Twitter mengatakan bahwa mereka sudah menyelamatkan puluhan orang dari kendaraan, atap rumah dan pohon. Helikopter juga dikerahkan untuk membawa orang ke tempat yang aman di kota-kota yang lebih terpencil.
“Itu adalah peristiwa ekstrem, lebih dari yang luar biasa,” kata pakar iklim Massimiliano Fazzini kepada stasiun televisi pemerintah.
Menurut perhitungannya, hujan yang tercurah yang terkonsentrasi selama kurun empat jam – dan khususnya yang paling deras selama 15 menit – merupakan kucuran hujan paling banyak kurun seratusan tahun terakhir.
Banjir terparah dialami kota kecil Senigallia, sementara sejumlah kota kecil di perbukitan dekat kawasan wisata Renaisans di kota Urbino juga terendam ketika air, lumpur, dan puing-puing yang bergerak cepat mengalir melalui jalan-jalan kota.*