Hidayatullah.com — Masjid Fatih di Amsterdam membukanya pintunya untuk lebih dari 1.000 pengunjung non-Muslim selama kegiatan berjuluk “Malam Museum”. Pengunjung yang datang akan menerima berbagai informasi baik tentang Islam, masjid itu sendiri dan bahkan seni Islam.
“Belanda sangat ingin tahu tentang agama Islam dan struktur internal masjid kami,” kata Kemal Gözütok dari Masjid Fatih. “Mereka ingin mempelajari semuanya mulai dari lemari sepatu hingga mimbar, dari mihrab hingga ubin,” kata Kemal Gözütok dari Masjid Fatih kepada Anadolu (06/11/2022).
Masjid Fatih, dibangun pada 1890, awalnya merupakan bangunan untuk pertemuan rahasia sosialis Belanda dan kemudian dibeli oleh Ordo Jesuit. Para Yesuit, yang berafiliasi dengan gereja Katolik, kemudian menghancurkan bangunan lama pada tahun 1927 dan membangun sebuah gereja.
Penduduk Belanda yang didominasi Protestan dan ateis menyebabkan gereja kekurangan jemaat dan uang pada tahun 1971. Selama 10 tahun setelahnya, bangunan gereja digunakan untuk bermacam hal selain berfungsi sebagai gereja.
Hingga akhirnya bangunannya dibeli oleh para pekerja Turki yang datang ke Amsterdam pada tahun 1980 untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah. Pada 1981 bangunan ini diubah menjadi sebuah masjid dan terhubung dengan Yayasan Keagamaan Belanda pada tahun 1986.
Seorang pengunjung bernama Charn dari AS mengakui bahwa meski tinggal sangat dekat masjid di Amsterdam, ini pertama kalinya ia datang: “Saya sangat menyukai interior masjid. Suara para imam juga sangat indah.”
Pengunjung lain, Jaap Kapteyn, menyebutkan pentingnya ikut serta dalam kegiatan masjid dalam mempromosikan Islam, serta budaya dan karya seninya. “Ini mempengaruhi cara pandang orang Belanda – yang sangat menghargai seni – tentang Islam.”
“Ini adalah cara yang sangat baik untuk memerangi Islamofobia di Belanda,” tambahnya.
Malam Museum, atau Malam Panjang Museum, adalah acara budaya di seluruh Eropa sejak 2005 di mana museum dan lembaga budaya tetap buka hingga larut malam untuk memperkenalkan diri kepada pelanggan potensial baru. Pengunjung yang ingin menjelajahi museum diberikan tiket masuk umum yang memberi mereka akses ke semua pameran serta transportasi umum gratis di area tersebut.
Acara pertama, Lange Nacht der Museen dalam bahasa Jerman, berlangsung di Berlin pada tahun 1997. Pada tahun 2005, Dewan Eropa, UNESCO dan Dewan Museum Internasional bergabung untuk mempromosikan acara ini untuk meningkatkan akses ke budaya karena acara tersebut dipuji oleh banyak penikmat seni.*