Hidayatullah.com—Jumlah kasus aborsi di Turki dari tahun 2002 hingga 2012 menunjukkan angka kenaikan tajam, demikian menurut data resmi dari kementerian kesehatan.
Di tahun 2002 saja tercatat 33.007 kasus aborsi. Angka itu naik menjadi 78.961 di tahun 2012, jawab Menteri Kesehatan Mehmet Muezzinoglu menanggapi pertanyaan tertulis pada Nopember 2013 yang diajukan wakil ketua partai oposisi CHP, Sezgin Tanrikulu. Tanrikulu menbeberkan data itu ke media pada 5 Mei kemarin, lansir Hurriyet (6/5/2014).
Menurut laporan yang sama, dari Januari 2013 hingga Juni 2013, jumlah kasus aborsi yang tercatat mencapai 29.226.
Tahun lalu penasihat kementerian kesehatan Ahmet Ozdinc lewat akunnya di Twitter mengatakan, jumlah permohonan pengguguran kandungan oleh mahasiswa universitas melonjak tajam.
Ketika itu Ozdinc menyebut datanya didapat dari pertemuan dengan para ginekolog berbagai universitas.
Bulan Mei 2012 Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan pernyataan yang mengaitkan aborsi dengan pembunuhan, yang kemudian dikecam sejumlah pihak.
“Aborsi adalah Uludure,” kata Erdogan merujuk pada pembunuhan 34 warga sipil di pedesaan suku Kurdi oleh jet tempur Turki pada 28 Desember 2011 di perbatasan antara Turki dengan Iraq. Ketika itu para korban sedang menyelundupkan minyak dari Iraq dan pihak militer salah mengira mereka adalah anggota kelompok separatis Kurdi PKK.
Sejak itu kasus aborsi sering dipolitisir.
Pada 2012, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang mernjadi partai penguasa mengusulkan legislasi bahwa semua aborsi harus dilakukan dalam jangka waktu tidak melebihi dari 6 minggu masa kehamilan, atau turun dari 10 minggu dari yang saat ini berlaku.
Namun, usulan itu dibatalkan setelah ribuan wanita dan aktivis perempuan berunjuk rasa di berbagai wilayah Turki.
Menurut peraturan di Turki saat ini, perempuan boleh menggugurkan kandungannya pada masa kehamilan 10 minggu. Peraturan ini sudah berlaku sejak 1983.*