Hidayatullah.com– Misi pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Mali, Minusma, terancam buyar karena negara-negara penyumbang personel keamanan menarik pasukan mereka.
Jerman adalah negara terbaru yang mengatakan 1.000 pasukan penjaga perdamaiannya akan meninggalkan negara di kawasan Sahel itu pada Mei 2024 karena dampak pengerahan tentara bayaran Rusia terus berlanjut.
Menteri Pertahanan Jerman Christine Lambrecht menjamin penarikan pasukan akan dilakukan secara tertib karena Mali berencana mengadakan pemilihan transisi pada Februari 2024, lansir BBC Rabu (23/11/2022).
Inggris, Pantai Gading, dan Benin juga berniat untuk menarik pasukan masing-masing tahun depan, sementara Mesir menangguhkan operasinya di negara itu tanpa batas waktu.
Hubungan antara Mali dan negara-negara mitra memburuk sejak junta militer yang dipimpin Kolonel Assimi Goita merebut kekuasaan pada Agustus 2020.
Tindakan Bamako yang terus mendekat ke Moskow memicu penarikan tergesa-gesa ribuan tentara oleh mitra keamanan lama Mali, Prancis, pada bulan Agustus, mengakhiri kerja sama militer selama hampir satu dekade.
Minusma – yang memiliki 12.000 tentara di Mali sejak 2013 – adalah operasi PBB terbesar dan paling mematikan. Personel penjaga perdamaian sering terbunuh atau terluka dalam serangan oleh al-Qaeda dan petempur ISIS alias IS.*