Hidayatullah.com–Kebijakan Israel terhadap al-Quds Timur, yang diduduki negeri Yahudi itu, merusak kemungkinan Palestina memiliki ibukota di kota tersebut, yang \”sangat membahayakan\” solusi dua negara, kata Uni Eropa (UE) pada Selasa (7/12).
\”Bila kecenderungan itu tidak dihentikan sebagai masalah yang mendesak, kemungkinan al-Quds Timur dijadikan ibukota Palestina semakin menurun dan tidak dapat dilaksanakan,\” kata laporan tahunan UE, yang dikutip AFP.
\”Ini akan sangat membahayakan kesempatan mempertahankan perdamaian sebagai dasar solusi negara terpisah, dengan nantinya al-Quds sebagai ibukota mereka,\” tambahnya.
Rumusan itu, berjudul Laporan Jerusalem 2010, dikumpulkan kepala duta UE, yang bermarkas di kota itu, serta di kota Ramallah, Tepi Barat, dan berisi saran kebijakan UE.
Pendudukan Israel dan pencaplokan al-Quds Timur pada 1967, serta anggapan \”ibukota kekal tak terpisahkan\”, tidak pernah mendapat pengakuan dari masyarakat dunia.
Masa depan al-Quds Timur yang diinginkan warga Palestina sebagai ibukota negaranya, merupakan masalah paling peka dalam pembicaraan perdamaian Timur Tengah, yang buntu sejak akhir September akibat pembangunan pemukiman. [afp/ant/hidayatullah.com]