Hidayatullah.com– Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat mengatakan tidak akan lagi menulis Turkey dan menggantinya dengan Türkiye untuk menyebut nama negara Turki dalam kebanyakan komunikasi publiknya.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis ketika mengumumkan langkah-langkah untuk merusak jaringan finansial kelompok ISIS alias Daesh alias ISIS, Deplu AS menulis tentang aksi bersama antara “Amerika Serikat dan Türkiye”, ditulis dengan umlaut di atas huruf u.
“Kedutaan Besar Turki memang meminta agar kami menggunakan ejaan ini dalam komunikasi kami,” kata juru bicara Deplu AS Ned Price seperti dikutip AFP Kamis (5/1/2023.
“Deplu akan menggunakan ejaan yang Anda lihat hari ini di sebagian besar konteks formal diplomatik dan bilateral kami, termasuk dalam komunikasi publik,” katanya.
Namun, dia juga mengatakan ejaan “Turkey” tidak dilarang dipakai dengan tujuan memberikan pemahaman masyarakat karena ejaan tersebut dipahami lebih luas oleh publik Amerika.
Presiden Recep Tayyip Erdoğan pada tahun 2021 memerintahkan penggunaan Türkiye secara konsisten dalam bahasa resmi negaranya yang menggunakan aksara Latin.
Orang Turki sejak lama kesal dengan penulisan Turkey, karena identik dengan ayam kalkun dalam bahasa Inggis, jenis unggas yang dikenal sebagai santapan tradisional masyarakat Amerika Serikat saat merayakan Thanksgiving. Kata “turkey” terkadang dipakai dengan konotasi merendahkan, untuk menyebut orang “bodoh”.
Beberapa negara berbahasa Inggris laman kedutaannya di Ankara sudah menggunakan ejaan Türkiye seperti Australia, Kanada, New Zealand, serta India. Sementara Inggris, Irlandia dan Afrika Selatan masih menggunakan Turkey.
Laman situs Kedutaan AS sendiri sampai hari Kamis masih belum konsisten menggunakan Türkiye.
Pentagon (Departemen Pertahanan AS) sudah menggunakan ejaan Türkiye sejak Agustus tahun lalu, baik ketika berkomunikasi dengan sesama anggota NATO maupun komunikasi di media sosial.*