Hidayatullah.com–Lebih dari 10.000 orang telah tewas ketika menyebrangi Mediterania menuju Eropa sejak 2014, PBB mengatakan pada Selasa.
Setelah terjadinya insiden kapal karam yang diklaim korbannya mencapai ratusan nyawa, badan pengungsi PBB mengatakan bahwa jumlah kematian di laut telah meningkat tajam, dengan catatan 2.814 orang tenggelam sejak Januari.
Insiden tersebut terjadi di saat Uni Eropa meluncurkan rencana baru untuk membendung gelombang manusia dari Afrika dan Timur Tengah dengan menggelontorkan 68 miliar dollar untuk membantu negara-negara di mana para imigran itu berasal.
Dengan beradanya Eropa di genggaman krisis pengungsi terburuk sejak Perang Dunia II, jumlah kematian yang meningkat telah memaksa tindakan cepat untuk mencegah masalah itu.
“Kami tidak dapat mentoleransi kehilangan nyawa pada skala ini, kami harus melakukan apapun untuk menghentikan itu,” kata wakil presiden Komisi Eropa Frans Timmermans dikutip middleeasteye.net, Rabu (08/06/2016).
Brussel telah mencari cara untuk mengawasi secara ketat rute Afrika – dengan memantau kapal-kapal yang meninggalkan Libya serta juga Mesir – setelah kesepakatan dengan Ankara pada Maret dalam memangkas sejumlah imigran yang mencoba untuk menyebrang ke Turki.
Proposal baru yang melibatkan dana Uni Eropa untuk mempromosikan investasi swasta hingga 60 miliar euro di negara-negara di mana banyak imigran berasal – Ethiopia, Nigeria, Mali dan Senegal, serta Jordania dan Libanon, kata Timmermans.
Delapan miliar euro dana Uni Eropa dapat digunakan untuk mendukung kesepakatan migrasi dengan negara-negara luar, banyak dari negara itu diperdebatkan ketika puncak krisis tahun lalu.
Komisi itu juga ingin mempercepat kesepakatan pendaftaran ulang dengan negara-negara Afrika dan dengan Pakistan serta Afghanistan untuk mempermudah mengirim kembali orang-orang yang tidak mendapatkan status pengungsi.
“Akan ada konsekuensi bagi mereka yang menolak untuk bekerja sama,” Timmermans mengatakan pada Parlemen Eropa.
Komisi Eropa juga bersiap untuk mengungkapkan rencana sistem “blue card” untuk imigran yang mempunyai keahlian agar datang ke Eropa secara resmi.
Tujuannya ialah untuk mengurangi insentif bagi orang-orang yang mencoba untuk menyelundup ke dalam benua tersebut dengan kapal-kapal rapuh dan mempertaruhkan nyawa mereka.
“Jika kita pernah ingin bersaing dengan Green Card AS, kita butuh UE Blue Card yang layak mendapatkan keuntungan yang sama,” Komisioner Migrasi Dimitris Avramopoulos mengatakan.
Jumlah ‘kematian yang mengerikan’
PBB mengatakan sekitar 3.771 orang telah tewas di laut pada 2015 dan 3.500 pada tahun-tahun sebelumnya, plus kematian tahun ini.
“Sekarang kita telah mengetahui jumlah sejak 2014 – ketika fenomena meningkatnya jumlah yang menyebrang ke Mediterania terjadi – 10.000 kematian,” kata juru bicara UNHCR Adrian Edwards.
“Ini jelas-jelas sebuah jumlah kematian mengerikan yang telah terjadi di Mediterania, dekat perbatasan Eropa, hanya dalam beberapa tahun,” Edwards mengatakan AFP.
Tidak lama setelah pengumuman PBB, penjaga pantai Libta mengatakan mereka telah mencegat 117 migran, termasuk enam wanita hamil, di sebuah kapal di perbatasan Eropa.
Lebih dari satu juta orang telah melakukan perjalanan ke Eropa pada 2015, mayoritas mereka lari dari perang di Suriah, Iraq dan Afghanistan, dan lebih jauh lagi 204.000 telah datang sejak Januari, kata UNHCR.
Imigran yang menyeberangi rute mematikan antara Turki dan Yunani telah berkurang tajam sejak kesepakatan kontroversial antara UE dan Turki yang dibentuk untuk memotong gelombang imigran Suriah yang menyeberangi Laut Aegean.*/Nashirul Haq AR