Hidayatullah.com–Hampir 50.000 pekerja General Motors diseru untuk melakukan mogok setelah perusahaan otomotif terbesar di Amerika Serikat itu gagal mencapai kesepakatan upah dan kondisi kerja dengan serikat United Auto Workers (UAW).
“Kami tidak menganggap enteng masalah ini. Ini merupakan upaya terakhir kami,” kata wakil presiden UAW Terry Dittes kepada para reporter di Detroit seperti dilansir BBC Ahad (15/9/2019).
Para pihak menetapkan Sabtu malam sebagai tenggat kesepakatan.
Mogok itu–yang digelar mulai tengah malam (04:00 GMT) hari Senin– merupakan aksi meninggalkan pekerjaan paling besar yang digelar di GM sejak 2007.
Dalam mogok itu, dua hari berhenti kerja merugikan perusahaan $300 juta.
Kontrak kerja serikat UAW dengan Genetal Motors habis akhir pekan kemarin, dan kedua belah pihak melakukan negosiasi terkait banyak masalah, seperti gaji, perawatan kesehatan, pembagian laba dan keamanan kerja.
Serikat kerja juga berjuang menghentikan rencana GM menutup pabrik-pabriknya di Michigan dan Ohio, yang menurut perusahaan perlu ditutup akibat perubahan pasar.
Hari Ahad dini hari 850 pekerja bagian perawatan di lima pabrik GM melakukan mogok.
“Kami menuntut gaji layak, pemeliharaan kesehatan berkualitas yang terjangkau, serta pembagian laba,” kata Dittes.
GM berargumen bahwa gaji dan beragam tunjangan serta fasilitas yang diberikannya kepada pekerja termasuk yang terbaik di kalangan industri otomotif. Pabrikan mobil itu mengatakan bahwa pihaknya menawarkan kepada UAW investasi baru sebesar $7 miliar, lebih banyak pekerjaan, serta kenaikan gaji dan tunjangan.
Tidak jelas apakah kedua pihak akan melakukan negosiasi lebih lanjut.
Aksi mogok itu dilakukan saat industri mobil AS mengalami perlambatan penjualan, serta meningkatnya biaya investasi guna mengembangkan kendaraan listrik dan mengurangi emisi.*