Hidayatullah.com—Hubungan bilateral Turki dan Israel memang memburuk setelah serangan tentara Zionis atas kapal-kapal Gaza Freedom Flotilla Mei 2010, tetapi hubungan dagang kedua negara tidak pernah putus dan diharapkan akan semakin meningkat pascapenandatanganan rekonsiliasi hari Selasa kemarin.
“Normalisasi akan dilakukan di semua area, namun melejitkan kerja sama ekonomi dan regional akan menjadi kunci bagi kita,” kata Perdana Menteri Binali Yildirim saat mengumumkan secara resmi kesepakatan normalisasi hubungan Turki-Israel hari Senin (27/6/2016).
- PM Turki Binai Yildirim Resmi Umumkan Normalisasi Hubungan Turki-Israel
- Erdogan Mengontak Abbas Terkait Kesepakatan Normalisasi Hubungan Turki-Israel
Pembangunan kawasan industri Jenin dan juga sebuah rumah sakit akan dipercepat melalui kesepakatan itu, imbuh Yildirim seperti dilansir Hurriyet.
Turki saat ini masih terus menggarap zona industri bebas pajak di kota Jenin, Tepi Barat. Proyek itu sejalan dengan sebuah proyek yang telah diluncurkan beberapa tahun silam oleh Union Chambers and Commodity Exchanges of Turkey (TOBB).
Beberapa jam sebelum pengumuman rekonsiliasi Turki-Israel, berbicara di Roma, Italia, setelah melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada para reporter, “Menurut saya langkah untuk menormalisasi hubungan ini merupakan langkah penting … Kesepakatan ini memiliki implikasi sangat besar bagi perekonomian Israel, dan saya sengaja menggunakan kata itu … Maksud saya positif, implikasi yang sangat besar.”
Membaiknya hubungan bilateral Turki-Israel diharapkan akan menyuburkan kerja sama khususnya di bidang energi, pariwisata, konstruksi dan perdagangan, kata para pejabat.
Kepala Badan Hubungan Ekonomi Internasional Turki (DEIK) Omar Cihad Vardan mengatakan dalam pernyataan tertulis tanggal 27 Juni 2016 bahwa kesepakatan rekonsiliasi itu sangat penting artinya bagi masa depan politik dan ekonomi kawasan.*