Hidayatullah.com—Untuk pertama kali penyidik internasional menyerahkan laporan keterlibatan adik Presiden Bashar al-Assad,Maher al Assad serta 13 pejabat tinggi lainnya, sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap penggunaan senjata kimia ketika konflik di Suriah bermula.
Investigasi bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) sebelumnya mengidentifikasi hanya pihak militer menggunakan senjata kimia, tanpa menyebutkan individu atau komandan mereka.
Namun, laporan terbaru itu mencantumkan nama individu yang mana penyidik percaya ada kaitan dengan serangkaian pemboman menggunakan gas saraf pada 2014 dan 2015, termasuk Assad dan adiknya, Maher al Assad serta beberapa pemimpin tinggi militer.
Laporan itu menunjukkan keputusan menggunakan senjata kimia dan gas saraf datang dari pihak atasan militer dan pemerintah rezim, kata sumber yang dekat dengan kelompok peneliti itu.
Rezim Suriah sebelumnya berulang kali membantah mereka menggunakan senjata kimia ketika perang saudara selama sekitar enam tahun, sambil mengklaim itu adalah perbuatan kelompok penentang rezim atau ISIS.
Daftar nama sang individu yang tidak mengungkapkan kepada publik, dibuat berdasarkan bukti dikumpulkan tim PBB-OPCW di Suriah dan badan intelijen Barat dan lokal.
Penelitian PBB-OPCW dikenal sebagai Joint Investigative Mechanism (JIM), dipimpin tiga panel independen, didukung tim teknis dan administrasi. Ia diberi mandat oleh Dewan Keamanan PBB untuk mengidentifikasi individu dan organisasi yang bertanggung jawab menggunakan serangan kimia di Suriah.
Meskipun, penyelidikan itu tidak memiliki kekuasaan legislatif, daftar nama tersangka memungkinkan mereka didakwa.
Rezim Suriah tidak menjadi anggota Pengadilan Internasional (ICC), tetapi tuduhan kejahatan perang dapat dirujuk ke pengadilan oleh Dewan Keamanan PBB.
Mantan Petinggi Hizbullah Sebut Milisi Syiah Manfaatkan Kemiskinan untuk Bela Bashar
Daftar nama itu terbagi tiga yaitu pertama yang berisi enam nama, termasuk Assad dan adiknya yang memimpin 15.000 tentara elit di Divisi Baja ke-4. Termasuk kepala Divisi ke-22 Angkatan Udara dan Brigade Ke-63 Helikopter, unit di mana tim penyidik percaya telah menjatuhkan bom kimia dan banyak membantai rakyak Suriah.
Daftar ketiga melibatkan lain-lain pejabat senior militer, termasuk dua kolonel dan dua mayor jenderal.
Brigadir Jenderal Maher al-Assad Maher al-Assad (46 tahun), adalah Komandan Elit Garda Republik dan Divisi Lapis Baja ke-4 yang sebelumnya mengerahkan pasukannya ke Propinsi Deraa untuk melawan Front al-Nusra setelah serangkaian kekejaman pemerintah Suriah terhadap rakyatnya yang dimulai di negara itu pada Maret 2011.
Pria 45 tahun ini sudah lebih dari setahun tidak kelihatan batang hidungnya di Suriah diduga masih jadi orang kuat di kemiliteran Suriah dan disinyalir berada di balik penyerangan senjata kimia di Ghouta yang menewaskan lebih dari 1.700 orang.
Adik kandung Presiden Bashar al-Assad menurut The Guardian, dalam beberapa hal, memainkan peranan penting dalam perang sipil di Suriah ketimbang kakaknya.
Anggota senior Partai Baath ini menempati Komandan Divisi Ke-4 Pasukan Bersenjata Suriah sejak tahun 2000 dan Garda Republik. Kedua pasukan ini aktif menggempur pasukan mujahidin. Pekan lalu, kedua divisi ini kembali diaktifkan untuk melakukan operasi besar melawan pasukan pejuang Suriah di Damaskus.
Maher dikenal brutal dalam melawan kelompok oposisi dan pembebebasan. “Dia sempat terluka dalam pemboman di Damaskus 18 Juli 2012. Serangan kala itu, juga merenggut nyawa kakak iparnya, Assef Shawkat dan Menteri Pertahanan, Dawoud Rajha, ” tulis Daily Mail.*