Selasa, 26 Juli 2005
Hidayatullah.com–Situs berita detik.com kembali mengulangi kesalahan. Hari ini (26/7), situs itu memberitakan aksi yang dilakukan Aliansi untuk Kebebasan Beragama di depan Kantor Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan. Dalam berita itu, dituliskan bahwa Aliansi untuk Kebebasan Beragama mendesak Polri segera menangkap pelaku perusakan dan penyerangan Kampus Mubarak, Parung, Bogor. Yang tergabung dalam Aliansi itu disebutkan beberapa ormas Islam, antara lain: PSAP Muhammadiyah, , The Wahid Institute, Ma’arif Institute, Jaringan Islam Liberal, Freedom Institute, dan Lakpesdam NU. Menariknya, juga ada nama Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
Tak lama setelah berita ini beredar, pihak Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) kontan membantahnya. Menurut Fauzan Al-Anshari, Ketua Departemen Data dan Informasi, ”Berita yang dilansir detik.com adalah fitnah keji, karena MMI tidak ikut dalam kegiatan dengan alian tersebut.” Fauzan juga menyesalkan wartawan situs berita tersebut yang tidak melakukan cross check kepadanya.
Fauzan juga mengaku telah melayangkan protes kepada redaksi detik.com. Namun hingga tadi sore belum ada jawaban. ”Sampai sore hari ini saya lihat belum ada perubahan,” menurut Fauzan. Selanjutnya, jika detik.com tidak juga merubah berita tersebut, MMI akan bersikap tegas. ”Kita (MMI-red) akan mensomasi atas keteledoran yang serius itu,” akunya pada hidayatullah.com.
Pihak MMI sendiri juga tidak sepakat dengan perusakan bangunan pada kampus yang menjadi sarang Ahmadiyah itu. ”Bagaimanapun bangunan itu tidak bersalah, yang bersalah adalah orang-orang yang menempati lokasi tersebut,” menurutnya.
Sebelumnya, Jum’at, (22/7) situs itu juga melakukan kesalahan pada berita berjudul Aliansi Masyarakat Madani Tuntut MUI Cabut Fatwa Ahmadiyah. Dalam berita itu, sang wartawann memasukkan nama Salahudin Wahid dalam aliansi tersebut. Seolah-olah adik kandung Gus Dur itu setuju menuntut MUI.
Namun setelah dikonfirmasi hidayatullah.com, pria yang biasa disapa Gus Solah ini membantah dengan keras. Meski mengaku datang pada saat pembicaraan dialog dengan kelompok itu, namun dirinya justru orang yang paling keras bersikap menolak tuntutan itu.
”Saya satu-satunya orang yang menolak tuntutan untuk mencabut fatwa Ahmadiyah,” aku adik mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid. Nah. Ada apa ini? (Ahmad Damanik)