Hidayatullah.com–Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hari ini (Selasa, 17/6) akan membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-22. Untuk menyambut pembukaan tersebut, seluruh provinsi, Senin (16/6) mengikuti pawai taaruf. Pawai Taaruf berlangsung meriah dengan menampilkan beragam tampilan masing-masing dari asal provinsi.
Kegiatan itu dihadiri Menteri Agama RI, Muhammad Maftuh Basyuni beserta Istri, Gubernur Banten, Hj Ratu Atut Chosiyah, Ketua DPRD Provinsi Banten, Ady Surya Dharma, SE beserta Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten HA Sadeli Kariem, Muspida, para Pejabat Eselon II, dan tamu undangan lainnya serta masyarakat Banten.
Pawai yang dimulai pada pukul 13.30 WIB ditandai dengan pengibaran bendera start oleh Menteri Agama RI, Muhammad Maftuh Basyuni didampingi Gubernur Banten, Hj Ratu Atut Chosiyah, Wakil Gubernur Banten Drs H M Masduki MSi, dan Ketua DPRD Provinsi Banten, Ady Surya Dharma, SE.
Sebelum pawai pembukaan diawali dengan penampilan Marching Band Gita Surosowan yang melintasi panggung utama dan merupakan Marching Band yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Banten. Disusul oleh Paskibraka Provinsi Banten, mobil hias dari Provinsi Banten yang diiringi oleh Marching Band adik-adik kecil dan Marching Band SDN Ciputat Serang, Banten.
Kafilah yang mengikuti Pawai Taaruf mulai melintasi panggung utama dimulai oleh mobil Hias Kafilah dari Provinsi Bali yang diiringi kesenian daerah, musik tradisional dan mobil hias Kafilah dari Provinsi Bengkulu yang diiringi musik tradisional daerahnya.
Iringan diikuti mobil hias kafilah dari Provinsi DI Yogyakarta dan mobil hias kafilah dari DKI Jakarta. Di atas mobil hias tersebut terdapat deretan artis Ibu Kota diantaranya Mpok Nori, dan Abang None Jakarta. Dalam kesempatan ini, Abang None Jakarta menyerahkan Cinderamata kepada Menteri Agama RI dan Gubernur Banten.
Selanjutnya dimeriahkan dengan mobil hias kafilah dari Provinsi Gorontalo, Jambi dan Jawa Barat. Kafilah Provinsi Jawa Barat menyerahkan cinderamata kepada Menteri Agama RI berupa Al-Quran Mus'haf dengan terjemahan Bahasa Sunda.
Setelah itu mengikuti mobil hias kafilah Provinsi Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku Utara, serta Maluku. Kafilah Provinsi Maluku menyerahkan cinderamata kepada Menteri Agama RI dan Gubernur Banten yang diiringi dengan tarian daerah.
Diteruskan mobil hias kafilah Provinsi Nangroe Aceh Darussallam, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah. Papua Barat, lalu Papua yang diiringi tarian tradisional. Provinsi Papua Barat membawa 220 orang kafilah yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan Pawai Taaruf ini.
Disusul pula dibelakangnya yaitu mobil hias kafilah dari Sulawesi Tenggara, Papua, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, serta Provinsi Riau yang diiringi puisi-puisi, dan senandung mengenai MTQ Nasional dan Banten.
Berikutnya adalah kafilah dari Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan cindermata kepada Menteri Agama RI dan Gubernur Banten. Dan diikuti mobil Hias Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dan Jawa Timur.
Sebagai tuan rumah, Provinsi Banten mengawali pembuka dengan lagu-lagu yang menyanjungkan Asma Allah dengan iring-iringan Ibu-ibu Majlis Ta'lim dan ditutup dengan prosesi seni daerah Provinsi Banten.
Perkenalan budaya
Sementara itu, Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, Nandi Mulya didampingi Kabag Pemberitaan, Bambang Santoso mengatakan perhelatan MTQ bukan saja hanya kegiatan relijius namun juga perkenalan budaya.
Tak ketinggalan di provinsi-provinsi yang ada di Sumatra dengan kebudayaan Melayu. Provinsi Riau cukup kental menampilkan kesenian dengan warna Melayu Riau. Dari Sumatra Utara juga menampilkan miniatur Masjid Raya Medan yang begitu megah.
Masih kata Nandi, juga dari Sulawesi, Maluku yang juga mengenalkan kesenian daerahnya, dari Jawa Tengah mengenalkan saat mula perkembangan Islam didaerah Jawa. Bukan hanya dikembangkan sembilan Sunan, namum juga tokoh etnis China juga mengembangkan Islam.
Tidak ketinggalan Banten, dengan membuat miniatur menara Banten yang dibangun para Kesultanan Banten saat itu. Menara masjid Agung itu masih tetap kokoh berdiri di Banten Lama hingga sampai sekarang. Banten menampilkan berbagai kesenian hiroik relijius Islam, debus merupakan kesenian ungkapan perlawanan terhadap kebatilan dan membela kebenaran.
Masyarakat sangat antusias menyaksikan para kafilah yang menampilkan kesenian dari daerahnya masing-masing, katanya. [plt/hidayatullah.com]