Hidayatullah.com–Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 23-28 Maret di Makassar, aura persaingan calon Ketum PBNU betul-betul terasa. Setiap calon saling mencari dukungan dan mengkampanyekan visi-misinya.
Seperti kemarin Rabu, (17/3) calon Ketum PBNU, Masdar F Mas’udi dan Ali Maschan Moesa, menyampaikan pendapat dan saling berkampanye menyampaikan pandangannya.
Acara diselenggarakan di ruang Semanggi, Graha Pena Lt. 5, gedung Harian Jawa Pos. Sebetulnya, panitia berencana menghadirkan KH. Shalahuddin Wahid (Gus Sholah), namun karena ada urusan mendadak, jadi tidak bisa hadir.
Masdar F Mas’udi mengaku, muktamar kali ini dirasa berbeda dengan muktamar sebelumnya. Selain karena mendapat dukungan besar dari berbagai pihak, rivalitas antar calon juga sangat terasa.
“Muktamar kali ini juga bisa disebut muktamar pertarungan,” ujar Masdar. Dia juga mengatakan, muktamar kali ini adalah momen penting bagi NU untuk melakukan perubahan besar.
“Jika kali ini tidak terjadi perubahan, maka sulit pada periode berikutnya terjadi perubahan yang signifikan,” terangnya. Hal itu tidak lain karena kondisi sangat cepat berubah dan kompleks.
Selain itu, menurutnya problem baik internal maupun eksternal yang dihadapi NU harus diselesaikan. Problem internal NU adalah kebanyakan elit NU yang tidak lagi berorientasi ke umat. Karena itu, tidak heran jika banyak warga NU (nahdliyyin) yang sering membelot terhadap kebijakan politik NU.
“Elit NU menginginkan umat ke kanan, tapi justru ke kiri. Ini juga problem batin-politik NU,” tegasnya.
Masdar berpendapat, untuk mengembalikan hal itu, ulama harus mengembalikan peran sebagai ulama, yakni sebagai penggembala umat. dalam hal ini menjadikan serambi masjid sebagai balai umat. Dan, menurutnya sangat mudah mengidentifikasi umat NU dan bukan NU.
“Jika di masjid ada qunut, itu NU dan jika tidak pasti bukan NU,” tegasnya.
Hal hampir senada juga disampaikan pesaingnya, Ali Maschan Moesa. Mantan Ketua PWNU Jawa Timur ini mengatakan, kunci keberhasilan NU ada di tangan ulama. Jadi, mengembalikan keberhasilan NU yakni dengan mengembalikan peran dan fungsi ulama.
Lebih lanjut dia mengatakan, ciri-ciri ulama yang ideal adalah alim secara keilmuan, faqih, zuhud dan bagus ibadahnya. Dan, menurutnya ulama harus memiliki tiga kriteria; rijaluddin (spiritual leader), rijalunummat (pemimpin umat), dan intelektual leader.
Sementara, selama ini banyak orang NU yang menjadikan NU sebagai wadah atau memanfaatkan saja.
“Selama ini berkembang isu NU sebagai tempat nunut urip, dan NU sebagai tempat narik urunan,” terangnya yang disambut tawa perserta. [ans/hidayatullah.com]