Hidayatullah.com–Lembaga- lembaga pendidikan Islam seperti Taman Kanak-kanak Islam terpadu (TKIT) dan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dituding sebagai sarana pemupuk benih radikalisme Islam.
Demikian dinyatakan oleh peneliti SETARA Institute, Ismail Hasani dalam diskusi soal deradikalisasi untuk mengatasi kasus-kasus kekerasan atas nama agama, di Hotel Atlet, Jakarta, 10/1, kemarin.
Ismail menilai kelompok-kelompok yang disebutnya Islam Radikal telah mendoktrin anak-anak sejak kecil dengan radikalisme agama. Contohnya, kata Ismail, di TKIT/SDIT kerap diajarkan bahkan melombakan nasyid-nasyid jihad Palestina.
“Jadi, kita harus waspada terhadap SDIT dan TKIT ini,” kata Ismail.
Ismail mengatakan hal itu ketika menjelaskan hasil penelitiannya terhadap organisasi-organisasi Islam yang dicapnya radikal yang ternyata punya pengaruh dan cakupan yang luas.
Hidayatullah.com bertanya kepadanya, apakah itu tanda dia paranoid dengan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap saudara mereka di Palestina? Dia mengelak, “Tidak!”
“Lagu-lagu jihad itu mengancam NKRI dan bertentangan dengan Pancasila. Kenapa tidak pakai lagu-lagu perjuangan Indonesia?\” kilahnya.
Sebelumnya, Setara pernah menyimpulkan hasil penelitiannya yang mengatakan, warga Muslim Jakarta dan sekitarnya cenderung intoleran dalam kehidupan beragama. Menurutnya, jajak pendapat opini publik tersebut.
Namun, Direktur Lembaga Kajian Syariat Islam (LKSI) Fauzan al Anshari, meragukan rilis hasil survey SETARA tersebut.Menurutnya, survey itu tidak menyebut rinci variabel variabel yang dipakai untuk menyimpulkan adanya intoleransi beragama.
Belum lama ini, SETARA juga pernah mempersoalkan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) yang memberikan hadiah kepada pemerintah kabupaten dan provinsi yang dianggap berprestasi meningkatkan kegiatan-kegiatan keagamaan melalui pendidikan dan juga melalui Perda-Perda Syariah. [sur/hidayatullah.com]