Hidayatullah.com–Penutupan Lokalisasi Dolly tidak bisa dilakukan secara frontal. Sebab, jika hal itu dilakukan, dampak negatifnya justru akan lebih besar. Pernyataan ini disampaikan Kepala Dinas Sosial Surabaya, Eko Hariyanto menanggapi desakan banyak pihak agar lokalisasi pelacuran itu ditutup. “Jika Dolly ditutup secara frontal, bisa terbakar Surabaya ini,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Rabu (12/1).
Eko menuturkan, permasalahan yang ada di Lokalisasi Dolly cukup kompleks. Dolly memiliki jaringan yang cukup kuat. Bahkan, dalam jaringan itu, banyak oknum yang terlibat. Tidak hanya itu, WTS dan mucikari yang tinggal di Dolly mayoritas pendatang dari luar Surabaya yang sengaja mengais rezeki dari bisnis esek-esek itu. Apalagi, Lokalisasi Dolly lebih berkelas jika dibanding lima lokalisasi lainnya di Surabaya.
Dari bisnis itu pula, katanya, tidak sedikit yang mendapat keuntungan. Karena itu, siapapun yang berusaha menutup Dolly, pasti akan mendapat tentangan keras dari mereka.
Kendati begitu, tidak berarti Dolly tidak bisa ditutup. Eko berkesimpulan, Dolly bisa ditutup, tapi tidak dengan cara frontal sekaligus.
“Mereka harus disadarkan. Hati nurani mereka harus disentuh,” paparnya.
Dinas Sosial Surabaya sendiri, katanya telah melakukan berbagai pembinaan dan penyuluhan terhadap PSK dan mucikari. Hasilnya pun diakui Eko cukup signifikan. Seperti yang terjadi di Lokalisasi Dupak Bangunsari, dulu tahun 2003 jumlah PSK dan mucikari sekitar 3000 orang, kini menyusut tinggal 125 orang.
“Di Dupak Bangunsari sekarang tersisa tinggal satu gang, satu RT,” katanya. Penyusutan jumlah itu, kata Eko berkat pembinaan mental spiritual dan skil para PSK. Dinsos secara rutin mengadakan pengajian agama kepada para PSK. [ans/hidayatullah.com]