Hidayatullah.com–Dalam rangka menggali potensi generasi muda bangsa dalam bidang Matematika dan Studi Islam, Majalah Gontor bekerjasama dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) akan mengadakan acara Olimpiade Studi Islam dan Matematika Nasional “Fakhruddin ar-Razi Competition” tingkat SD sederajat dan SMP sederajat yang akan dihadiri oleh sekitar 3.500 orang (1.000 peserta kompetisi dan 2.500 guru dan wali siswa), serta Seminar Nasional “Membentuk Generasi Ulama-Intelek”.
Pembukaan “Fakhruddin ar-Razi Competition” yang insya Allah akan dilaksanakan pada hari Sabtu (08/10/2011).
Acara akan dibuka di Kampus STEKPI Kalibata (Depan Makam Pahlawan) Jakarta Selatan.
Menurut Pimpinan Redaksi Majalah Gontor Adnin Armas, lahirnya kompetisi yang menggabungkan dua disiplin ilmu ini dilatarbelakangi makin menipisnya pengetahuan agama Islam para siswa. Mereka lebih dominan mengejar pengetahuan umum ketimbang pengetahuan agama. Seharusnya, keseimbangan antara keduanya harus diwujudkan untuk mendapatkan pendidikan yang integral.
“FRC merupakan kepedulian Majalah Gontor dalam membangkitkan kembali pengetahuan agama Islam pada diri siswa yang cerdas. Para siswa yang pandai dalam bidang pengetahuan umum dan matematika hendaknya dibekali dengan nilai-nilai dan pengetahuan agama Islam agar mereka menjadi pribadi yang memiliki akhlakul karimah,” ujar Adnin.
Menurut Adnin, dulu, ketika zaman keemasan Islam, telah banyak lahir ilmuwan Muslim yang juga mumpuni di bidang agama Islam. Mereka banyak menemukan teori-teori baru dan membuat berbagai macam peralatan yang memiliki arti penting dalam sejarah peradaban dunia. Misalnya, di bidang matematika, para pakar matematika Muslim telah memberi kontribusi nyata dalam menemukan berbagai macam teori, seperti sistem bilangan desimal, sistem operasi dalam matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, eksponensial, dan penarikan akar.
Tak cuma itu, mereka juga memperkenalkan angka-angka dan lambang bilangan, termasuk angka nol (zero). Mereka juga menemukan bilangan phi, persamaan kuadrat, algoritma, fungsi sinus, cosinus, tangen, cotangen, dan lain-lain. Pakar matematika Muslim itu antara lain: al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Karaji, al-Battani, al-Biruni, dan Umar Khayyam yang telah banyak memberikan warna di dunia sains.
Sementara itu di bidang kimia ada nama Jabir Ibnu Hayyan, al-Biruni, Ibnu Sina, ar-Razi, dan al-Majriti. Jabir Ibnu Hayyan yang telah memperkenalkan eksperimen kimia mendapat predikat sebagai “Bapak Kimia Modern”.
Di bidang biologi para ilmuwan Muslim mencatatkan namanya. Mereka antara lain al-Jahiz, al-Qazwini, al-Damiri, Abu Zakariya Yahya, Abdullah bin Ahmad bin al-Baytar, dan al-Mashudi. Al-Jahiz adalah pencetus pertama teori evolusi. Sayang, namanya tidak disebutkan dalam buku-buku pelajaran biologi di sekolah maupun di perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa lebih mengenal nama Charles Darwin, ilmuwan yang hidup seribu tahun sepeninggal al-Jahiz.
Sedangkan di bidang fisika ada al-Haitham, Ibnu Bajjah, al-Farisi, dan Fakhruddin ar-Razi. Selain jago fisika, Fakhruddin al-Razi juga jago matematika, astronomi, dan ahli kedokteran. Ia adalah ulama yang intelek.
Fakhruddin juga seorang mufassir yang ahli kedokteran dan fuqaha yang jago matematika. Para ilmuwan Muslim yang hidup di era keemasan Islam itu memang jago di bidang ilmu kealaman, sekaligus pakar agama. Mereka ahli tafsir, pakar syariah, dan bidang-bidang lainnya.
“Kami yakin generasi Muslim yang luar biasa itu bisa kembali diwujudkan. Sebab, dua peninggalan Nabi Muhammad, yaitu al-Qur’an dan al-Hadis yang menjadi pedoman umat terdahulu, keotentikannya masih terjaga hingga sekarang atas izin Allah SWT. Dengan menjadikan keduanya pedoman hidup umat disertai kebersamaan dan kerja keras berkesinambungan, lahirnya generasi emas umat adalah hal yang niscaya,” katanya.
Kompetisi ini akan mengukur kemampuan siswa, khususnya siswa sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama, dalam matematika dan ilmu agama.
Acara babak final akan diselenggarakan pada 15 Oktober 2011 di Kampus al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Menurut Adnin, sekitar 700 siswa dari beberapa daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Mereka antara lain datang dari wilayah Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Sukabumi, Pandeglang, Serang, Kediri, dan Jember (Jawa Timur).
Selain itu, sebanyak 3.500 orang pengunjung akan hadir. Mereka adalah orangtua siswa dan guru pendamping.
“Kami bekerjasama dengan KPM yang sudah terbiasa menggelar kompetisi matematika tingkat nasional,” terangnya.
Selain acara kompetisi, panitia juga menggelar seminar bertema Membentuk Generasi Ulama-Intelek.
Menurut Adnin, acara FRC akan digelar setiap tahun. Tidak hanya diselenggarakan di Jakarta, tapi bisa juga di kota-kota lain di seluruh Indonesia secara bergantian.
“Saya yakin kegiatan ini akan bisa memberikan semangat kepada generasi Muslim untuk tampil lebih hebat di banding yang lain,” tegasnya.
Sementara itu Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), Ir R Ridwan Saputra MSi, mengatakan banyak umat Islam yang tidak concern terhadap kemampuan matematika. Padahal matematika merupakan ilmu dasar berpikir.
“Jika sudah ada dasar berpikir yang kuat bisa menambah pengetahuan baru di bidang sains. Nah, pengetahuan barunya akan berkembang ketika matematikanya bagus. Karena dalam matematika, siswa dilatih kemampuan menganalisa, eksplorasi, sehingga kemampuan penelitiannya bagus,” papar Ridwan.
KPM memiliki visi bahwa matematika akan meningkatkan ketakwaan. “Kami ingin membentuk orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Kalau belajar matematika tapi tidak meningkatkan keimanan, maka derajat kita tidak naik,” tambahnya.
Saat ini KPM telah merintis pesantren matematika di Bogor. Modelnya anak-anak yang datang ke pesantren mendapatkan kesempatan belajar selama seminggu. Mereka bisa belajar olimpiade matematika ke arah ketakwaan dengan biaya seikhlasnya.
“Insya Allah ke depan akan menjalar ke ilmu faraid, sehingga mereka pulang ada manfaatnya,” katanya.*
Foto: ilustrasi