Hidayatullah.com — Salah satu akibat pengaruh materialisme akut yang kini sedang menjangkiti masyarakat, khususnya umat Islam, adalah tercekokinya pola pikir bahwa kebahagiaan dan ketentraman hidup hanya dapat digapai jika terpenuhinya secara maksimal kebutuhan primer, yaitu sandang (pakaian), pangan (konsumsi) dan papan (hunian).
Akibatnya, karena kian merasuknya paradigma yang memang telah dijejalkan melalui pelajaran ekonomi kapitalisme sejak di bangku sekolah itu, banyak diantara umat Islam yang lupa diri. Matia-matian mereka memenuhi ketiga kebutuhan tersebut. Namun, ironisnya, tuntutan kebutuhan tersebut terasa tak pernah terpuaskan.
“Naif sekali karena kebahagiaan pun tak bisa diraih. Waktu untuk beribadah kepada Allah Subhana wata’ala hanyalah waktu sisa dari kesibukannya memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papannya,” tutur Ustadz Naspi Arsyad, Lc di Masjid Agung Ummul Quro, Kota Depok, Jawa Barat, Jum’at (20/1/2012)
Da’i lintas kota ini mengutarakan, mulai di bangku pendidikan dasar peserta didik anak Muslim telah dijejali dengan pola pendidikan bermuatan materialisme yang menegasikan dimensi ruhiyah. Pembelajaran yang berlangsung di sekolah-sekolah pun kerap sarat sekali dengan pendekatan-pendekatan materialistik yang kental.
Sehingga tak ayal, lanjut Ustadz Naspi, tak sedikit dari masyarakat Muslim telah terkooptasi dengan paradigma bahwa kebahagiaan dan ketentraman adalah ketika kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan terpenuhi dengan maksimal. Segala cara ditempuh, kesibukan sehari-hari pun adalah memikirkan bagaimana ketiganya tak terabaikan.
“Padahal bagi seorang Muslim, kebahagiaan adalah ketika kita menikmati sholat kita, kita bisa menikmati baca Qur’an kita, menikmati betul zikir kita kepada Allah Subhana wata’ala. Bukan sekedar pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan,” imbuh Ketua PP Hidayatullah ini.
Namun lantaran dalamnya merasuk teori ekonomi kapitalisme ini, kemurungan pun acap kali menimpa orang orang yang mengeluh sudah tua, punya anak dan istri, tapi merasa belum juga bisa memenuhi kebutuhan papannya.
Sehingga lebih hebatnya lagi, lanjut Naspi, karena telah menganggap kemapanan dalam memenuhi ketiga kebutuhan tersebut adalah prestise, maka tak ada waktu lagi untuk dakwah Islam demi mengejar impian dunianya.
“Spiritualitas, nikmatnya beribadah kepada Allah. Inilah kebutuhan primer itu yang dilupakan masyarakat kita hari ini. Umat kita membutuhkan ini,” tukasnya.
Dalam pada itu, Ustadz Naspi meyampaikan bahwa bukan berarti kemudian seorang Muslim harus melupakan kehidupan dan kebutuhan dunia lalu hanya sibuk mengejar pahala akhirat semata.
Tapi hendaknya ada keseimbangan antar keduanya, yakni terus bekerja keras untuk kebaikan kehidupan dunia, berbahagia serta menikmatinya dan beramal terbaik secara berkelanjutan untuk bekal kebaikan di akhirat.
Menyitir perkataan sahabat Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu ‘anhumaa, disampaikan dia, “Tanamlah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”.*